Aktivis Muhammadiyah Desak Prabowo Copot Kapolri Listyo Sigit
Desakan untuk mencopot Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo makin keras. Kali ini, suara itu datang dari kalangan Muhammadiyah Jakarta. Farid Idris, seorang aktivis di organisasi itu, menilai pernyataan Kapolri soal kesiapannya mempertahankan Polri "sampai titik darah penghabisan" punya nada provokatif. Menurutnya, hal itu bisa memicu konflik, baik di masyarakat maupun antar lembaga negara.
Bagi Farid, ucapan seperti itu bukan cuma salah secara etika kepemimpinan. Tapi juga berbahaya buat demokrasi dan tata kelola hukum. "Seharusnya, Kapolri jadi figur yang meredakan ketegangan, bukan malah mengobarkannya dengan narasi emosional," katanya.
"Pernyataan Kapolri Listyo Sigit sangat tidak pantas diucapkan oleh pejabat setingkat Kapolri. Kalimat ‘mempertahankan sampai titik darah penghabisan’ itu provokatif dan membuka ruang konflik, baik konflik horizontal di masyarakat maupun konflik antar institusi negara,"
Ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Sabtu lalu (31/1/2026).
Dia menegaskan, Polri itu alat negara. Institusi ini harus tunduk pada konstitusi dan hukum, bukan pada loyalitas personal atau emosi sesaat. Narasi "sampai titik darah penghabisan" dianggapnya tidak relevan. Bahkan bertentangan dengan semangat reformasi Polri yang digaungkan sejak era pasca-Orde Baru.
Reformasi itu sendiri tujuannya jelas: menjauhkan kepolisian dari budaya militeristik dan bahasa-bahasa konfrontatif. "Kepolisian itu bukan tentara perang," tegas Farid.
"Polri adalah institusi sipil yang bertugas melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat. Ketika Kapolri berbicara seolah-olah Polri sedang berada dalam situasi perang, itu menyesatkan dan mencederai semangat reformasi."
Masalahnya tidak berhenti di situ. Farid khawatir pernyataan itu malah memperkeruh hubungan Polri dan TNI. Kedua institusi ini memang kerap bersinggungan di lapangan. Kalimat "bertahan sampai titik darah penghabisan" bisa ditafsirkan sebagai sikap defensif berlebihan. Alhasil, kecurigaan antar aparat bisa makin menjadi.
Apalagi, Presiden Prabowo sendiri berlatar belakang militer. Dalam konteks ini, kehati-hatian berkomunikasi jadi kunci. Jangan sampai muncul kesan ada rivalitas atau persaingan tidak sehat antar institusi negara.
Artikel Terkait
Botol Pink Kosong dan Misteri N2O dalam Kasus Lula Lahfah
Polisi Ungkap Kronologi Terakhir Lula Lahfah, dari Kafe hingga Ditemukan Meninggal
Analis Bongkar Kaitan MSCI dan Anjloknya IHSG: Jangan Jadi Serigala Berbulu Domba
Gempa Keuangan di Shenzhen: Ratusan Triliun Menguap di Balik Janji Emas