Bayi Gaza Lahir di Tengah Bayang Kematian: Data Kesehatan Bantah Klaim Israel

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 06:00 WIB
Bayi Gaza Lahir di Tengah Bayang Kematian: Data Kesehatan Bantah Klaim Israel

Baginya, data ini adalah bukti terdokumentasi dari kejahatan yang masih berlangsung. Manipulasi angka, katanya, tak akan mengubah fakta bahwa Gaza sedang mengalami salah satu bencana kemanusiaan terparah dalam sejarah modern.

Di sisi lain, eskalasi militer ternyata belum berhenti. Pada Jumat lalu, militer Israel mengumumkan pembunuhan tiga pejuang Palestina dalam serangan udara di timur Rafah. Mereka menargetkan sebuah terowongan.

Dalam pernyataannya, militer Israel mengklaim menyerang “delapan elemen bersenjata” yang terlihat keluar dari terowongan, lalu melakukan serangan lanjutan saat para pejuang lain mencoba mundur. Operasi itu, klaim mereka, masih dievaluasi.

Padahal, sebelumnya Hamas mengungkapkan telah bernegosiasi dengan mediator internasional untuk evakuasi aman sekitar 200 pejuangnya yang terjebak di terowongan Rafah pada akhir 2025. Upaya itu, katanya, tidak mendapat respons dari Israel dan hingga kini belum terselesaikan.

Ini semua terjadi meski ada perkembangan dalam kesepakatan gencatan senjata. Presiden AS Donald Trump bahkan telah mengumumkan dimulainya fase kedua perjanjian itu pada pertengahan Januari.

Namun begitu, korban sipil terus berjatuhan. Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober, pasukan Israel dilaporkan masih melakukan operasi militer yang menewaskan 511 warga Palestina dan melukai 1.356 lainnya, menurut Pusat Informasi Palestina.

Perang pemusnahan selama dua tahun itu secara resmi mungkin telah berakhir. Tapi dampaknya menghancurkan. Lebih dari 71.000 warga Palestina tewas, 171.000 lainnya luka-luka, dan sekitar 90 persen infrastruktur Gaza hancur.

PBB memperkirakan biaya rekonstruksinya mencapai 70 miliar dolar AS. Sementara itu, jutaan warga masih hidup di antara puing-puing, tanpa jaminan keamanan, kesehatan, atau masa depan yang jelas.

Organisasi hak asasi manusia dan pakar hukum internasional terus bersuara. Mereka menegaskan bahwa pembunuhan massal, penghancuran sistem kesehatan, dan dampak jangka panjang terhadap ibu serta bayi adalah pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan Konvensi Jenewa.

Tapi bagi keluarga-keluarga di Gaza, angka statistik ini punya wajah dan nama. Mereka adalah bayi yang lahir terlalu cepat, ibu yang kehilangan anaknya, dan satu generasi yang tumbuh di bawah bayang-bayang perang. Sementara dunia internasional masih terus dipertanyakan: mengapa gagal menghentikan kejahatan yang berlangsung di depan mata mereka sendiri?


Halaman:

Komentar