Opini Tanpa Data: Ancaman Nyata bagi Demokrasi di Era Medsos

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 04:06 WIB
Opini Tanpa Data: Ancaman Nyata bagi Demokrasi di Era Medsos

Fenomena ini, mau tak mau, mencerminkan betapa literasi digital kita masih timpang. Banyak pengguna medsos yang gagal membedakan mana opini, mana fakta. Tak jarang, sebuah unggahan langsung ditelan mentah-mentah hanya karena cocok dengan pandangan yang kita pegang. Bias konfirmasi bekerja kuat di sini. Alih-alih jadi ruang belajar bersama, media sosial malah berubah jadi ruang gema yang hanya menguatkan prasangka kita sendiri.

Namun begitu, solusinya sama sekali bukan dengan membungkam suara. Kebebasan berpendapat tetaplah harga mati. Yang lebih kita butuhkan adalah kesadaran bersama untuk menempatkan opini pada porsinya. Kalau berpendapat, cobalah disertai data. Atau paling tidak, katakan dengan jujur bahwa itu adalah pandangan pribadi, bukan klaim kebenaran universal. Kerendahan hati intelektual mengakui bahwa pendapat kita bisa saja salah adalah kunci utama.

Selain itu, kita tidak bisa mengandalkan kesadaran individu semata. Pendidikan literasi digital, terutama untuk anak muda, harus jadi prioritas. Masyarakat perlu dilatih untuk mengecek fakta, melacak sumber, dan bersikap kritis terhadap setiap konten yang mereka baca. Platform media sosial juga punya tanggung jawab besar. Jangan cuma mengejar engagement dan cuan, tapi juga harus mendorong penyebaran informasi yang akurat dan berimbang.

Pada akhirnya, ruang publik yang berkualitas hanya akan terwujud jika opini dan data berjalan beriringan. Opini memberikan warna dan sudut pandang yang kaya. Sementara data berfungsi sebagai penjaga agar kita semua tetap berpijak pada realitas. Tanpa data, opini bisa dengan mudah menjadi senjata manipulasi dan pemecah belah. Maka, sudah saatnya kita lebih arif. Berbicara dengan dasar, berdiskusi dengan nalar, dan menempatkan kebenaran di atas kepentingan golongan. Bagaimanapun, ruang publik ini milik kita bersama. Dan kualitasnya adalah cermin langsung dari kedewasaan kita sebagai sebuah masyarakat.


Halaman:

Komentar