Syaban, Bulanku Kata Rasulullah: Jembatan Sunyi Menuju Ramadan

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 01:06 WIB
Syaban, Bulanku Kata Rasulullah: Jembatan Sunyi Menuju Ramadan

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Innallâha wa malâ'ikatahu yushallûna ‘alan-nabiy, yâ ayyuhalladzîna âmanû shallû ‘alaihi wa sallimû taslîmâ.

Intinya, Allah dan para malaikat-Nya saja bershalawat untuk Nabi. Maka kita yang beriman, sudah seharusnya mengikuti jejak itu.

Yang ketiga, Peristiwa Besar Perpindahan Kiblat.

Sya'ban juga menyimpan kenangan manis bagi Rasulullah. Bayangkan, beliau salat menghadap Baitul Maqdis di Madinah, tapi hati selalu rindu untuk menghadap Kakbah. Doa dan harapan yang dipanjatkan lewat tatapan ke langit itu akhirnya dikabulkan. Di pertengahan Sya'ban, turunlah ayat yang begitu menghibur:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا

“Qad narâ taqalluba wajhika fis-samā'i falanuwalliyannaka qiblatan tardlâhā...” (QS. Al-Baqarah: 144).

Allah seakan berkata, "Kami tahu keinginan hatimu, Muhammad." Lalu dipindahkanlah kiblat ke arah Masjidil Haram. Sebuah kepastian yang dinanti.

Nah, dari ketiga hal itu, kita bisa melihat bahwa Sya'ban bukan sekadar bulan biasa. Ia adalah semacam ruang diplomasi langit yang sangat istimewa bagi Nabi. Di sini, unsur legalitas ibadah (lewat perpindahan kiblat), kedalaman spiritual (lewat perintah shalawat), dan pengakuan khusus (lewat hadis) bertemu menjadi satu.

Maknanya jadi jelas. Memuliakan Sya'ban adalah bentuk cinta kita pada Rasulullah. Sekaligus, ini adalah masa transisi yang krusial. Waktu untuk menata niat dan mengasah hati. Kalau kita bisa optimal di bulan ini dengan memperbanyak shalawat dan amal saleh maka fondasi untuk menyambut Ramadan akan jauh lebih kokoh. Kita tak akan masuk bulan puasa dengan terengah-engah, tapi dengan jiwa yang sudah akrab dengan ritme ketaatan.

Maka, tak heran jika Sayyidah Aisyah RA pernah berkata, beliau tak pernah melihat Rasulullah berpuasa sunah lebih banyak daripada di bulan Sya'ban. Itu teladan langsung dari beliau.

Jadi, bagi kita yang mengharap syafaatnya, momentum Sya'ban ini terlalu berharga untuk disia-siakan. Ia adalah jembatan spiritual. Sebuah persiapan yang tenang namun penuh makna, untuk mencapai kesucian di Ramadan nanti.


Halaman:

Komentar