Guru 2026: Masihkah Ada Ruang untuk Wibawa di Tengah Transaksi Pendidikan?

- Jumat, 30 Januari 2026 | 20:25 WIB
Guru 2026: Masihkah Ada Ruang untuk Wibawa di Tengah Transaksi Pendidikan?

Guru di 2026: Masihkah "Digugu lan Ditiru"?

Oleh: Keni Rahayu, S. Pd., Aktivis Muslimah

Apes. Jadi guru di tahun 2026? Hah, selamat ya. Siapa tahu ini tiket langsung masuk surga. Dulu, waktu saya masih SD sekitar dua puluh tahun silam, gelar "guru" punya makna yang berat. Ia adalah singkatan dari digugu lan ditiru. Setiap kata dan tindakannya dipercaya, lalu diteladani oleh murid-muridnya.

Sekarang? Coba lihat berita-berita belakangan ini. Konflik antara guru dengan murid atau orang tua sepertinya makin sering terjadi. Menurut data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), dari tahun 2020 sampai 2025 tercatat lebih dari 1.900 kasus kekerasan di lingkungan sekolah. Yang mencengangkan, hampir separuhnya tepatnya 46,25 persen melibatkan hubungan guru dan murid.

Angka itu jelas menunjukkan sesuatu yang tidak beres. Relasi antara pendidik dan yang didik sedang tidak baik-baik saja. Bahkan, dalam rentang enam tahun terakhir, tren kekerasannya disebut melonjak hingga 600 persen. Ini bukan lagi soal oknum yang bermasalah, bukan? Mungkin sudah waktunya kita bertanya: jangan-jangan ada yang salah dengan sistem pendidikannya sendiri?

Nasib yang Sama-sama Terjepit

Sistem pendidikan kita sekarang ini, kalau dirunut, berpijak pada sekularisme. Agama cuma jadi pelengkap, ditempelkan begitu saja di sela-sela seabrek mata pelajaran umum. Akibatnya, pembentukan akhlak sering terabaikan. Kesuksesan seorang siswa cuma diukur dari angka-angka di rapor. Pintar itu berarti nilai ujiannya bagus, lalu bisa masuk kampus ternama, dan akhirnya dapat pekerjaan mapan. Pola pikir kapitalis pun tumbuh subur.

Di sisi lain, nasib guru juga tak kalah rumit. Mereka dibebani oleh setumpuk administrasi dengan deadline yang mepet. Suasana pendidikan jadi mirip transaksi jual-beli. Orang tua membayar, maka guru "wajib" membuat anak mereka "sukses". Alhasil, guru tak lagi digugu, melainkan malah diguyu ditertawakan. Posisinya direndahkan, dianggap sekadar bagian dari mesin pencetak generasi cerdas versi duniawi.


Halaman:

Komentar