Guru 2026: Masihkah Ada Ruang untuk Wibawa di Tengah Transaksi Pendidikan?

- Jumat, 30 Januari 2026 | 20:25 WIB
Guru 2026: Masihkah Ada Ruang untuk Wibawa di Tengah Transaksi Pendidikan?

Mengutamakan Adab, Bukan Cuma Ilmu

Lain halnya dalam Islam. Pendidikan adalah aktivitas mulia. Guru dimuliakan karena ilmunya, sementara murid dituntun dengan penuh kelembutan. Tahap awalnya bukan langsung menjejali ilmu, melainkan menanamkan adab. Logikanya sederhana: ilmu adalah hak Allah. Kalau adab murid sudah baik, Allah akan memudahkan jalan untuk menitipkan ilmu kepadanya.

Sabda Rasulullah ﷺ mengingatkan:

Misi beliau bukan sekadar perkara individu, tapi membangun sistem. Saat memimpin Madinah, Rasulullah ﷺ mengarahkan pendidikan untuk mencetak manusia yang beradab, berilmu, dan punya tanggung jawab sosial. Para sahabat dididik bukan cuma jadi pribadi yang saleh, tapi juga sebagai calon pemikul peradaban.

Negara hadir secara nyata. Masjid Nabawi menjadi pusat pendidikan yang terbuka untuk semua, tanpa dipungut biaya. Kebutuhan hidup para pengajar ditanggung oleh Baitul Mal. Dengan jaminan seperti ini, hubungan antara guru dan murid tidak terjebak dalam urusan transaksional. Guru bisa mengajar dengan ikhlas dan martabatnya terjaga. Murid pun belajar dalam atmosfer hormat dan adab.

Singkatnya, negara memikul tanggung jawab penuh atas keberlangsungan pendidikan. Bukan dibebankan ke pundak orang tua, apalagi dikapitalisasi oleh lembaga tertentu. Sistem seperti inilah yang sejatinya menjaga kemuliaan guru dan ketundukan murid.

Jadi, dalam Islam, guru tetap sosok yang digugu lan ditiru. Berbanding terbalik dengan kondisi sekarang yang seolah menempatkannya pada posisi mudah diguyu dan terus diburu target. Lantas, sampai kapan kita akan bertahan dalam sistem yang justru merendahkan martabat pendidik ini?


Halaman:

Komentar