Banjir 2026: Ketika Kota-Kota Kita Terus Menenggelamkan Diri Sendiri

- Jumat, 30 Januari 2026 | 16:06 WIB
Banjir 2026: Ketika Kota-Kota Kita Terus Menenggelamkan Diri Sendiri

Di sinilah kita perlu melihat dari kacamata ekoregion. Secara sederhana, ekoregion adalah wilayah dengan karakter alam yang serupa iklim, tanah, air, hingga interaksi manusianya. Dalam perspektif ini, dataran banjir, rawa, atau sawah itu bukanlah tanah kosong yang sia-sia. Itu adalah bagian dari sistem yang punya tugas vital: menyerap, menahan, dan mengatur aliran air.

Teori perubahan guna lahan sudah lama mengonfirmasi hal ini. Ketika lahan basah dan pertanian berubah jadi permukiman dan beton, karakter hidrologi wilayah pun berubah total. Limpasan air permukaan melonjak, sementara sistem drainase buatan manusia tak pernah sanggup menggantikan fungsi alam yang hilang itu.

Infrastruktur kita pun kerap gagal beradaptasi. Banyak saluran drainase masih dirancang berdasarkan data hujan zaman dulu, dan kerjanya pun tidak terintegrasi dengan wilayah sekitarnya. Pendekatan teknis semacam ini, tanpa diiringi upaya memulihkan jasa ekosistem, jelas tak akan memadai.

Dampaknya pun merambat ke mana-mana. Secara sosial, kehidupan warga terus terganggu, risiko penyakit mengintai. Aktivitas ekonomi mandek, kerugian material berulang, nilai properti anjlok. Pemerintah pun terjebak dalam siklus yang melelahkan: menggelontorkan dana darurat yang jumlahnya fantastis, padahal dana itu bisa jauh lebih bermanfaat jika dialihkan untuk pencegahan lewat perencanaan ruang yang berbasis ekologi.

Pada akhirnya, rangkaian banjir awal tahun ini harusnya jadi alarm peringatan yang keras. Banjir adalah cermin dari tata ruang dan ekoregion perkotaan yang rusak. Selama kita masih memandangnya sekadar sebagai masalah teknis 'kurang pompa' atau 'drainase sempit' dan mengabaikan kegagalan pengelolaan bentang alam, maka kota-kota kita akan terus berputar dalam siklus bencana yang sama. Berulang, dan mungkin, makin parah.


Halaman:

Komentar