Rocky Gerung: Indonesia Menuju Crack Ekonomi, Bukan Sekadar Krisis Biasa

- Jumat, 30 Januari 2026 | 13:50 WIB
Rocky Gerung: Indonesia Menuju Crack Ekonomi, Bukan Sekadar Krisis Biasa

Di sebuah acara yang digelar akhir Januari lalu, suara Rocky Gerung terdengar keras dan jelas. Pengamat politik itu tak ragu menyampaikan kegelisahannya. Menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini justru mengarah pada kegagalan mencapai cita-cita besar Indonesia Emas 2045. Yang lebih mengkhawatirkan, bonus demografi yang selama ini digadang-gadang bisa saja berakhir sia-sia.

"Kalau persaingan ekonomi 2045 dari hari ini kita proyeksikan, ya akan gagal," ujarnya tegas.

Acara itu, yang kemudian beredar luas di kanal YouTube-nya pada Jumat (30/1/2026), menjadi panggung bagi kritik pedasnya. Rocky merasa ada jurang lebar antara narasi resmi pemerintah dan realita pahit yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ia lantas menggambarkan suasana yang memilikan. Gara-gara ekonomi yang carut-marut, kehidupan rakyat kecil jadi berantakan.

"Presiden Prabowo membuat emak-emak cemas melihat dompetnya makin lama makin tipis," katanya.

"Buat teman-teman mahasiswa, setiap hari mereka cuma bisa mencicil barang yang digadaikan."

Ceritanya semakin nyata. Rocky menyebut banyak mahasiswa terpaksa pindah kos. Bayangkan, dari yang seharga Rp500.000 mereka harus turun drastis mencari tempat seharga Rp300.000 karena tak sanggup lagi. Keadaan seperti ini, dalam pandangannya, adalah bukti nyata dari sebuah pembusukan di dalam tubuh ekonomi nasional. "Jadi terlihat bahwa secara real kita mengalaminya," tegas Rocky.

Namun begitu, peringatannya tidak berhenti di situ. Ia memprediksi sesuatu yang lebih buruk dari sekadar krisis biasa. Indonesia, katanya, berpotensi mengalami 'crack' atau retakan ekonomi, bukan cuma 'crash'. Bedanya? Kalau crash itu seperti tabrakan atau benturan. Sedangkan crack itu retakannya dari dalam, perlahan tapi pasti menghancurkan fondasi.

"Potensi kita mengalami crack bukan lagi crash. Kalau crash dia ya kegesek dong. Ini crack, retak, ada di depan mata," paparnya dengan nada waspada.

Dalam proyeksinya yang suram, harga dolar bisa melambung hingga Rp18.000 dan emas menyentuh angka Rp3 juta. Lalu, apa akar masalahnya?

Rocky menuding ada rekayasa data yang sistematis. Semua angka pertumbuhan dan statistik positif yang dikeluarkan pemerintah, menurutnya, hanyalah tipu-tipu untuk menjaga ego sang Presiden. "Di belakangnya ada kasak-kusuk untuk menghasilkan manipulasi terhadap ego Presiden," ucap Rocky.

Ia menyoroti janji Menteri Keuangan Sri Mulyani tentang target pertumbuhan ekonomi 6%. Target itu, klaimnya, gagal total karena dibangun dari data palsu. Data yang bahkan mungkin tidak dipercaya oleh para pembuatnya sendiri.

Lalu, bagaimana dengan klaim pemerintah soal keberhasilan artificial intelligence (AI) mengumpulkan investasi fantastis senilai Rp30 triliun? Rocky menyangsikannya dengan sarkasme yang khas.

"Datanya dari mana? Ya, data yang dikumpulkan oleh artificial intelligence. Sumber datanya mana? Ya, pemerintah," kritiknya dengan senyum getir.

Di sisi lain, fakta yang justru terjadi adalah capital outflow atau pelarian modal besar-besaran. Nilainya mencapai Rp130 triliun! Penyebabnya sederhana: investor asing kehilangan kepercayaan terhadap sistem pengambilan keputusan di Indonesia.

Dengan segala kemelut ini, Rocky akhirnya mempertanyakan nasib generasi muda. Mereka yang diharapkan menjadi motor bonus demografi.

"Setiap orang yang ada di sini gelisah," katanya, menyapa audiens.

"Apakah nanti 2045 kalian yang lulus hari ini bisa betul-betul jadi bonus demografi? Ya bisa aja. Tapi apa artinya jadi bonus demografi kalau persaingan ekonomi 2045 akan gagal?"

Pertanyaan itu menggantung, tanpa jawaban mudah. Rocky menutup pernyataannya dengan penekanan pada satu hal: tanpa perbaikan fundamental dan transparansi data yang nyata, target Indonesia Emas 2045 tak akan pernah lebih dari sekadar mimpi di siang bolong.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar