Rocky menuding ada rekayasa data yang sistematis. Semua angka pertumbuhan dan statistik positif yang dikeluarkan pemerintah, menurutnya, hanyalah tipu-tipu untuk menjaga ego sang Presiden. "Di belakangnya ada kasak-kusuk untuk menghasilkan manipulasi terhadap ego Presiden," ucap Rocky.
Ia menyoroti janji Menteri Keuangan Sri Mulyani tentang target pertumbuhan ekonomi 6%. Target itu, klaimnya, gagal total karena dibangun dari data palsu. Data yang bahkan mungkin tidak dipercaya oleh para pembuatnya sendiri.
Lalu, bagaimana dengan klaim pemerintah soal keberhasilan artificial intelligence (AI) mengumpulkan investasi fantastis senilai Rp30 triliun? Rocky menyangsikannya dengan sarkasme yang khas.
"Datanya dari mana? Ya, data yang dikumpulkan oleh artificial intelligence. Sumber datanya mana? Ya, pemerintah," kritiknya dengan senyum getir.
Di sisi lain, fakta yang justru terjadi adalah capital outflow atau pelarian modal besar-besaran. Nilainya mencapai Rp130 triliun! Penyebabnya sederhana: investor asing kehilangan kepercayaan terhadap sistem pengambilan keputusan di Indonesia.
Dengan segala kemelut ini, Rocky akhirnya mempertanyakan nasib generasi muda. Mereka yang diharapkan menjadi motor bonus demografi.
"Setiap orang yang ada di sini gelisah," katanya, menyapa audiens.
"Apakah nanti 2045 kalian yang lulus hari ini bisa betul-betul jadi bonus demografi? Ya bisa aja. Tapi apa artinya jadi bonus demografi kalau persaingan ekonomi 2045 akan gagal?"
Pertanyaan itu menggantung, tanpa jawaban mudah. Rocky menutup pernyataannya dengan penekanan pada satu hal: tanpa perbaikan fundamental dan transparansi data yang nyata, target Indonesia Emas 2045 tak akan pernah lebih dari sekadar mimpi di siang bolong.
Artikel Terkait
Banjir 2026: Ketika Kota-Kota Kita Terus Menenggelamkan Diri Sendiri
Gus Yaqut Penuhi Panggilan KPK, Kasus Kuota Haji 2023-2024 Menyandang Status Tersangka
Rapat Pleno PBNU Pulihkan Posisi Gus Yahya, Tegakkan Kembali Aturan Dasar
Menteri Rachmat: Jangan Beri Kail, Kalau Orangnya Sudah Keburu Meninggal