ACEH UTARA - Pemerintah sedang menggenjot program perbaikan sekolah-sekolah di Aceh yang rusak akibat bencana. Targetnya, semua rehabilitasi harus selesai paling lambat tahun 2026. Dengan begitu, aktivitas belajar mengajar bisa kembali normal di tahun ajaran baru nanti.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan langkah ini sebagai bukti nyata kehadiran negara. Hak anak untuk mendapat pendidikan yang aman dan berkualitas, katanya, harus dijamin.
“Kita masih dalam fase tanggap darurat menuju rekonstruksi. Tapi yang utama, proses belajar tidak boleh terhenti,” ujar Mu’ti.
Dia menyampaikan hal itu dalam kunjungan kerjanya ke Aceh, sekaligus meresmikan revitalisasi 23 satuan pendidikan. Acara terpusat di SMAN 1 Baktiya, Aceh Utara, Rabu lalu.
“Untuk sekolah yang rusak berat, akan kami bongkar dan bangun kembali di lokasi sama. Dananya dari program revitalisasi,” tambahnya.
Di sisi lain, arahan dari Presiden Prabowo Subianto cukup jelas: tidak boleh ada lagi sekolah dengan bangunan rusak, atap bocor, atau fasilitas sanitasi yang tidak layak. Itu jadi pedoman kerja di lapangan.
Secara nasional, anggaran yang disiapkan untuk pemulihan satuan pendidikan di wilayah Sumatra mencapai Rp2,4 triliun. Khusus untuk Aceh Utara, prosesnya dilakukan bertahap. Penyelesaian penuh ditargetkan pada 2026.
Berdasarkan data per 15 Januari 2026, ada 171 satuan pendidikan yang terdampak. Rinciannya cukup banyak. Untuk jenjang SMK, tercatat 93 sekolah terdampak, dengan 99 data sudah terverifikasi. Nilai Perjanjian Kerja Samanya mencapai Rp270 miliar.
Sementara di jenjang SLB, ada 20 sekolah terdampak. Data terverifikasi 15, dengan 13 PKS senilai Rp3,98 miliar. Lalu, untuk SKB dan PKBM, dari 58 sekolah terdampak, baru 7 data yang terverifikasi. PKS-nya dua, dengan nilai Rp198 juta.
Artikel Terkait
Jokowi Buka Suara soal Obrolan Rahasia dengan Prabowo di Balik Pesta Pernikahan
Sally, Siswi SMK Pamulang, Masih Hilang: Jejak Terakhir di Pool Bus Rosalia
Audit Internal Polda DIY Berujung Penonaktifan Kapolresta Sleman
Waspada Nipah, Turis India ke Bali Tetap Mengalir Deras