Kalau dijumlah, total nilai bantuan PKS yang sudah ada mencapai Rp274,18 miliar.
Dalam kunjungannya, Mendikdasmen juga blusukan ke sejumlah lokasi. Dia ingin memastikan kondisi bangunan dan percepatan revitalisasi berjalan sesuai rencana. Beberapa titik yang ditinjau antara lain SMK Kesuma Bangsa, SMPN 2 Mutiara Batu, hingga SDN 9 Jambo Aye. Tak lupa, sekolah darurat dan TK Liwaul Hamdi juga diperiksa.
Program ini ternyata tak cuma fokus pada perbaikan ruang kelas belaka. Fasilitas pendukung seperti toilet, perpustakaan, laboratorium, dan ruang praktik juga jadi sasaran pembangunan.
Untuk mempercepat kerja, pemerintah menggandeng banyak pihak.
“Kami bekerja sama dengan TNI. Untuk pembangunan kelas darurat, kami bekerja sama dengan berbagai lembaga yang punya komitmen dan kepedulian terhadap rehabilitasi di Aceh,” jelas Mu’ti.
Dia melanjutkan, setidaknya ada dua skema yang dijalankan. Pertama, kerja sama lintas kementerian dan organisasi masyarakat. Kedua, pembangunan unit sekolah baru bersama Kepala Staf Angkatan Darat.
Harapannya, untuk kerusakan ringan dan sedang bisa tuntas sebelum tahun ajaran baru 2026–2027 dimulai. Memang, sekolah yang harus direlokasi atau dibangun baru dengan ruang kelas besar butuh waktu lebih lama. Tapi, kata Mu’ti, pendanaannya sudah tersedia. Jadi, optimistis semua bisa ditangani.
Pada akhirnya, melalui percepatan revitalisasi ini, Kemendikdasmen berharap proses pendidikan di Aceh bisa kembali optimal. Itu adalah fondasi penting untuk masa depan anak-anak di sana.
Artikel Terkait
Jokowi Buka Suara soal Obrolan Rahasia dengan Prabowo di Balik Pesta Pernikahan
Sally, Siswi SMK Pamulang, Masih Hilang: Jejak Terakhir di Pool Bus Rosalia
Audit Internal Polda DIY Berujung Penonaktifan Kapolresta Sleman
Waspada Nipah, Turis India ke Bali Tetap Mengalir Deras