Kota Niscemi di Sisilia diguncang bencana Kamis lalu (29/1). Tanah longsor raksasa, dengan runtuhan lereng bukit membentang hampir empat kilometer, meluluhlantakkan kawasan itu. Pemandangannya mirip luka lebar di permukaan bumi. Akibatnya, otoritas setempat dengan cepat menetapkan sebagian besar wilayah Niscemi sebagai zona merah. Intinya, tempat itu sudah tidak aman lagi untuk ditinggali.
Sebenarnya, tanda-tanda bahaya sudah muncul sejak beberapa hari sebelumnya. Menurut laporan, pergerakan tanah mulai terjadi pada 25 Januari lalu. Sekitar 1.500 warga terpaksa meninggalkan rumah mereka dalam proses evakuasi yang mendesak. Niscemi sendiri memang dikenal punya masalah dengan tanahnya. Medan di bawah kota itu tidak stabil, membuatnya rentan terhadap pergeseran.
Lalu, apa pemicu utamanya? Semuanya berawal dari cuaca ekstrem. Badai dahsyat telah menghantam Italia selatan selama seminggu penuh, mengguyur wilayah itu dengan hujan yang tak henti-henti. Kombinasi antara kondisi alamiah tanah dan curah hujan tinggi inilah yang akhirnya memicu tragedi.
Para ahli yang memantau lokasi memberikan peringatan serius. Jurang yang terbuka akibat longsor dikhawatirkan akan terus melebar. Jika itu terjadi, bangunan-bangunan di sekelilingnya jelas terancam.
Ancaman itu makin nyata karena prakiraan cuaca tidak menunjukkan perbaikan. Hujan lebat diprediksi akan kembali mengguyur dalam hitungan hari ke depan. Makanya, imbauan untuk warga sangat jelas: jauhi area terdampak dan patuhi setiap arahan dari petugas di lapangan. Keselamatan adalah yang utama.
Artikel Terkait
Ledakan Guncang Masjid di Jember Saat Salat Tarawih, Tidak Ada Korban Jiwa
MK Beri Tenggat Dua Tahun untuk Revisi UU Hak Keuangan Pejabat Negara
Fiorentina Hajar Cremonese 4-1, Gudmundsson Jadi Bintang
Mabes TNI Mutasi 35 Perwira, Brigjen Tagor Rio Pasaribu Jadi Aster Kaskogabwilhan II