Perspektif SDM: Adaptasi yang Wajar
Dalam kajian SDM modern, perilaku ini bisa dibaca sebagai bentuk adaptasi yang sehat. Dunia kerja berubah cepat, kebutuhan individu juga ikut berubah. Karier nggak lagi harus linear. Dan nggak semua orang mau nunggu sampai "waktunya tiba" baru mulai melirik opsi lain.
Karyawan zaman sekarang cenderung lebih proaktif mengelola jalan kariernya sendiri. Mereka sadar, keberlanjutan karir nggak cuma bergantung pada satu perusahaan. Tapi juga pada kemampuan diri untuk terus belajar dan membangun relasi.
Dengan begitu, bersikap terbuka terhadap peluang justru jadi strategi bertahan. Bukan tanda ketidakloyalan.
Bukan Selalu Soal Pergi
Yang menarik, nggak semua yang open to work benar-benar berniat cabut. Sebagian cuma pengin kerjaan yang lebih seimbang. Ada yang cuma pengin uji nyali di arena berbeda. Atau, sekadar memastikan diri mereka nggak berhenti berkembang.
Mungkin yang berubah bukan orangnya, tapi cara mereka memberi nama pada proses yang sedang dijalani.
Penutup
Fenomena open to work sekarang kayaknya lebih tepat dibaca sebagai bahasa baru di dunia kerja. Sebuah bahasa yang bicara soal keterbukaan, pencarian, dan keinginan untuk tetap relevan di tengah perubahan.
Jadi, daripada sibuk menebak-nebak kenapa seseorang pasang label itu, mungkin pertanyaan yang lebih menarik adalah: apa sih yang bikin semakin banyak orang merasa perlu menyisakan ruang untuk kemungkinan-kemungkinan lain?
Artikel Terkait
Bali Perketat Pengawasan Penumpang India Usai KLB Virus Nipah Dikeluarkan
Bocah di Cisarua: Berdiri Menunggu Teman yang Tertimbun Longsor
Senandung Belajar Kembali di SDN 101305 Usah Terendam Banjir
Niscemi Terbelah: Longsor Raksasa Sisisia Ubah Permukiman Jadi Zona Merah