Di balik semua analisis hukum, ada ironi yang pahit. Kentongan, benda yang secara tradisi justru jadi penanda bahaya atau panggilan untuk berkumpul, malah berbalik jadi alat maut. Simbol kewaspadaan berubah jadi simbol duka. Ini menunjukkan satu hal: keselamatan tidak bisa dianggap remeh. Ia harus secara aktif dijaga.
Kelalaian orang tua dalam kasus seperti ini kerap bukan karena kurang sayang. Seringnya, justru karena terlalu percaya. Percaya bahwa lingkungannya aman, percaya bahwa anaknya tidak akan menjauh. Namun, hukum tidak menilai dari niat baik atau rasa percaya. Hukum melihat tindakan nyata atau tepatnya, kelalaian untuk bertindak yang seharusnya dilakukan untuk mencegah risiko.
Anak yang menjadi korban bukan cuma korban keadaan. Ia juga korban dari kegagalan sistem tanggung jawab yang seharusnya dipegang oleh orang dewasa di sekitarnya.
Secara sosial, tragedi ini harus jadi alarm. Pemerintah daerah perlu meninjau standar keamanan bangunan publik. Pengelola usaha wajib memastikan fasilitasnya benar-benar aman, terutama untuk anak-anak. Tapi semua aturan dan standar itu akan percuma kalau orang tua, sebagai garda terdepan, lengah. Keselamatan anak memang tanggung jawab bersama, tapi porsi terbesarnya tetap ada di pundak orang tua.
Pada akhirnya, ini soal etika. Kelalaian dalam pengawasan bukan cuma melanggar hukum. Ia juga melukai norma moral dan sosial paling dasar. Tanggung jawab orang tua itu lebih dari sekadar memberi hidup. Tapi juga menjaga kehidupan itu dengan segala daya upaya. Bentuk kasih sayang yang paling nyata seringkali adalah kewaspadaan dan pengorbanan untuk terus mengawasi.
Tragedi Kulon Progo adalah pelajaran yang mahal harganya. Sebagai orang tua dan bagian masyarakat, kita dituntut untuk lebih paham arti "duty of care" kewajiban untuk menjaga. Pengawasan itu bukan tindakan sesekali. Ia harus konsisten. Tidak ada ruang publik yang 100% aman tanpa pengawasan aktif dari orang terdekat.
Kehilangan seorang anak adalah kehilangan yang tak ternilai. Hukum mungkin bisa memberi keadilan prosedural, tapi rasa bersalah dan penyesalan? Itu akan terus membayangi. Maka, biarlah peristiwa menyedihkan ini mengingatkan kita semua: cinta yang sejati itu melindungi. Bukan cuma di hati, tapi lewat tindakan nyata dan kewaspadaan tanpa henti.
Artikel Terkait
Di Balik Sorak-Sorai Akhir Tahun: Saatnya Menyepi dan Merapikan Batin
Gempa Dangkal Guncang Bandung dan Sumedang Pagi Ini
Andi Azwan Klaim Rekaman Rahasia Ungkap Eggi Sudjana Minta Maaf ke Jokowi
Ketika Anak Tak Merasa Diterima: Luka Batin yang Tumbuh dalam Diam