Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal data yang salah bisa memicu pemborosan anggaran sebenarnya menyentuh hal yang mendasar. Intinya sederhana: data yang keliru akan melahirkan kebijakan yang salah arah. Persoalannya, di banyak kantor pemerintahan, data sudah menumpuk. Sistemnya pun sudah jalan. Tapi, sayangnya, kemampuan aparatur sipil negara (ASN) untuk benar-benar berpikir dengan data masih jauh tertinggal. Di sinilah peran pelatihan atau diklat ASN seharusnya jadi kunci.
Faktanya, data di instansi pemerintah kerap bukan jadi bahan untuk memutuskan sesuatu. Justru, data lebih sering dipakai untuk membenarkan keputusan yang sudah diambil dari awal.
Selama ini, diklat ASN lebih banyak dilihat sebagai cara untuk tingkatkan kompetensi administratif belaka. Misalnya, memahami aturan, menguasai aplikasi, atau sekadar memenuhi target jam pelatihan. Dalam pola pikir seperti ini, data cuma dianggap sebagai urusan teknis sesuatu yang harus diisi, dilaporkan, lalu ditampilkan rapi di dashboard. Padahal, tantangan sebenarnya dalam membangun negara berbasis data bukan pada ada atau tidaknya data. Yang lebih krusial adalah kemampuan menafsirkan apa makna di balik angka-angka itu.
Yang lebih dominan sekarang ini malah "kepemimpinan berbasis slide". Siapa yang presentasinya paling memukau, dialah yang menang. Bukan yang datanya paling valid dan kuat. Negara terlihat makin digital, tapi proses berpikir di balik kebijakan seringkali masih sangat analog.
Negara berbasis data pada hakikatnya adalah negara yang bisa belajar dari realitasnya sendiri. Data bukan tujuan akhir. Ia adalah bahan baku untuk membangun pengetahuan, yang akhirnya melahirkan kebijakan yang tepat. Tapi tanpa kapasitas analitis yang memadai, data justru berisiko jadi ilusi objektivitas: terlihat ilmiah, tapi tak benar-benar dipakai untuk memahami persoalan publik secara mendalam.
Karena itu, diklat ASN tidak bisa lagi sekadar fokus pada penguasaan alat atau aplikasi. Yang dibutuhkan adalah pergeseran paradigma: dari sekadar pelatihan menuju pembelajaran. Dari transfer materi ke pembentukan cara berpikir. ASN perlu dilatih untuk mengajukan pertanyaan kritis berbasis data: pola apa yang muncul, anomali apa yang mencurigakan, dan apa implikasi kebijakan dari deretan angka tersebut.
Ada ironi yang menyolok. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin jarang ia bersentuhan dengan data mentah. Informasi yang sampai ke mejanya sudah disaring berlapis: oleh staf, lewat laporan, ringkasan, dan tentu saja, slide. Akibatnya, banyak pemimpin justru mengambil keputusan paling strategis dengan pemahaman yang dangkal terhadap realitas.
Dalam banyak rapat, kalimat "berdasarkan pengalaman saya..." seringkali punya bobot lebih berat ketimbang temuan data. Pengalaman pribadi dianggap sebagai otoritas kebenaran, seolah realitas sosial cukup dibaca dari ingatan satu orang, bukan dari pola empiris yang terkumpul. Intuisi, sayangnya, sering dianggap lebih sakral daripada bukti.
Artinya, substansi diklat harus berubah total. Literasi data, analisis kebijakan, pemikiran sistem, dan kemampuan membaca konteks sosial dari data harus jadi kompetensi inti. Bukan sebagai pelajaran tambahan, tapi sebagai fondasi cara kerja birokrasi modern. Tanpa itu, negara berbasis data cuma akan melahirkan birokrasi yang sibuk mengelola informasi, tapi miskin pengetahuan.
Indikator keberhasilan diklat pun harus kita pikir ulang. Bukan lagi soal berapa banyak peserta yang lulus atau sertifikat yang dicetak. Tapi, apa yang benar-benar berubah di organisasi setelahnya: apakah kebijakan jadi lebih tepat sasaran, anggaran lebih efisien, atau layanan publik lebih responsif.
Ini yang menarik: capaian nilai Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) yang tinggi tak selalu sejalan dengan literasi data para pimpinan. Banyak instansi dapat skor bagus dalam evaluasi SPBE sistem terintegrasi, aplikasi jalan, dashboard keren tersedia tapi dalam praktiknya, keputusan strategis masih lebih sering ditentukan oleh intuisi, pengalaman pribadi, atau pertimbangan politik semata. Dashboard dibuka di awal rapat, lalu ditutup begitu pembahasan serius dimulai.
SPBE, dalam banyak kasus, cuma berhenti sebagai indikator kesiapan teknologi. Bukan indikator kematangan cara berpikir. Negara terlihat makin digital, tapi belum tentu makin data-driven. Yang terjadi justru paradoks: birokrasi secara sistem semakin canggih, tapi logika kerjanya dalam mengambil kebijakan tetap sama dengan cara lama.
Artikel Terkait
Masa Transisi Kampus: Saat Mahasiswa Baru Dihadapkan pada Ujian Kemandirian
Trump Klaim Putin Setuju Hentikan Serangan ke Kyiv Selama Satu Pekan
Waspada! Pintu Air Depok Siaga I, Karet Sentuh 470 Cm
Pengungsi Pasca-Bencana di Sumatera Menyusut, Huntara Aceh Rampung 100%