Wacana MBG ini sendiri memang sedang panas. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto sudah mengangkatnya di forum dunia, World Economic Forum (WEF) di Davos. Ia bahkan berani berkelakar.
Prabowo menyebut program MBG bakal mengalahkan McDonald's dalam waktu singkat.
"Untuk gambaran, kira-kira dalam sebulan ke depan, kami akan lampaui McDonald's yang menyajikan 68 juta porsi per hari," kata Prabowo di Davos, Kamis pekan sebelumnya.
Targetnya memang ambisius: mencapai 82,9 juta porsi makanan bergizi per hari.
Program yang diinisiasi sejak 6 Januari 2025 ini awalnya cuma punya 190 dapur, melayani 570 ribu porsi. Kini, angkanya melesat. Sudah ada 21.102 dapur yang beroperasi di seluruh Indonesia.
"Sampai tadi malam, kami produksi 59,8 juta porsi untuk anak, ibu, dan lansia yang hidup sendiri. Mereka terima ini setiap hari," papar Prabowo dengan nada optimis.
Ia lalu membandingkan dengan raksasa fast food itu. "McDonald's mulai dari tahun 1940. Butuh 55 tahun buat mereka capai angka 68 juta porsi per hari."
Nada yang terdengar seperti perlombaan ini, di sisi lain, menyimpan pertanyaan besar. Tapi setidaknya, pernyataan Rachmat tadi mengingatkan kita: sebelum bicara tentang pekerjaan dan masa depan, yang paling dasar harus diselesaikan dulu. Soal perut yang keroncongan.
Artikel Terkait
Diklat ASN dan Ironi Negara yang Sibuk Data tapi Miskin Analisis
Waspada! Pintu Air Depok Siaga I, Karet Sentuh 470 Cm
Pengungsi Pasca-Bencana di Sumatera Menyusut, Huntara Aceh Rampung 100%
Jalan Kabupaten Lumpuh, Belasan Motor Mogok Diterjang Banjir di Indramayu