Lebih jauh, Deddy menyempatkan diri menyampaikan pesan keras. Terutama untuk siapa pun yang mengenakan seragam dan punya kewenangan. Kekuasaan, katanya, jangan sampai disalahgunakan untuk menyakiti rakyat kecil. Tindakan kekerasan terhadap warga dalam kondisi apa pun sulit dicari pembenarannya.
"Ente berdua kan ngeribetin hidup gua lagi tiap hari. Yang ditanya-tanyain orang kan pasti gua. Anda kan di Kemhan, Anda kan tentara juga. Gimana itu urusannya itu tentara mukulin orang, polisi mukulin orang dan sebagainya," ungkap Deddy, Kamis (29/1/2026).
Ia benar-benar menyayangkan tindakan oknum aparat itu. Hanya karena kecurigaan es gabus terbuat dari spons, seorang kakek sampai diperlakukan tak manusiawi. Menurut Deddy, hal semacam ini justru mencederai institusi itu sendiri.
"Bro, cek dulu. Ya kan, dicek nih... Nah, baru lu samperin. Dan kalau lu samperin juga lu tangkap. Bukan dipukulin, bukan dipukulin. Itu kakek-kakek, kakek-kakek enggak bisa ngelawan. Aduh, badannya cungkring. Ya Allah, itu badannya udah kayak lidi lidi," sindirnya pedas.
Deddy juga menyoroti satu hal yang bagi banyak orang terasa janggal: keberanian oknum tersebut seolah hanya muncul saat berhadapan dengan rakyat kecil yang tak berdaya. Bayangkan, perawakan kakek yang ringkih itu dibandingkan dengan perawakan oknum berseragam. Jelas tak seimbang.
“Coba kalau penjualnya badannya sangar, mungkin nyali mereka beda,” ujarnya dengan nada getir.
Harapannya, kasus ini jadi pelajaran buat semua. Empati dan rasa kemanusiaan harus selalu diutamakan, terutama ketika berhadapan dengan masyarakat yang lemah. Itu pesan akhir yang ingin ditekankan Deddy Corbuzier dalam aksi bantuannya kali ini.
Artikel Terkait
Polri Serap Aspirasi Publik untuk Transformasi Layanan
Malam Larut di Bandung, dan Kenangan yang Tak Kunjung Pergi
Babinsa Kemayoran Dihukum Berat Usai Insiden Penjual Es Gabus
Prabowo Pacu Proyek 141 Ribu Rumah Subsidi, Cikarang Jadi Lokomotif