Gencatan senjata permanen di Gaza, setidaknya itulah yang dijanjikan oleh Board of Peace atau Dewan Perdamaian. Inisiatif dari mantan Presiden AS Donald Trump ini digadang-gadang sebagai jalan baru menuju perdamaian. Namun, jika dicermati lebih dalam, langkah ini justru mengusung aroma diplomasi isolasionis Amerika yang kental. Intinya, AS ingin menerapkan kebijakan non-intervensi ketat selama fase rekonstruksi Gaza. Tujuannya jelas: meminggirkan peran Eropa dan PBB. Dewan ini dirancang sebagai forum alternatif yang berjalan paralel, diklaim lebih konkret, gesit, dan efektif dalam menyelesaikan konflik global.
Platform BoP sebagai bentuk isolasionisme modern ini fokus utamanya adalah mengelola dampak pasca-perang. Mulai dari rekonstruksi, tata kelola, hingga demiliterisasi. Strukturnya terdiri dari Dewan Eksekutif dengan partisipasi mayoritas negara-negara Islam. Ini seperti pesan tersirat kepada Eropa dan PBB: urusan keamanan regional Timur Tengah, biar kami yang urus. Kepemimpinan dewan ini sendiri cukup menarik. Donald Trump bertindak sebagai ketua, sementara Dewan Eksekutifnya diisi oleh nama-nama seperti Jared Kushner, Marco Rubio, dan Tony Blair.
Tak kurang dari 25 negara koalisi disebut telah bergabung. Di antaranya Arab Saudi, Qatar, Turkiye, Mesir, Uni Emirat Arab, Armenia, Azerbaijan, Yordania, Pakistan, Uzbekistan, Kosovo, dan Indonesia.
Di sisi lain, banyak kritikus yang sinis. Mereka menggambarkan inisiatif ini sekadar upaya AS untuk menjadi bandul tunggal pengontrol stabilitas di Gaza dan sekitarnya. Sebuah pelemahan terhadap institusi multilateral seperti PBB. Trump sendiri berargumen bahwa PBB telah gagal.
“PBB telah gagal menyelesaikan konflik di Gaza,” begitu kira-kira penjelasannya.
Tapi, apa yang ditawarkan BoP? Bagi banyak pengamat, ini lebih mirip dialog ekonomi. Caranya dengan mengendalikan stabilitas keamanan dan proyek rekonstruksi melalui korporasi AS, alih-alih melibatkan seluruh unsur yang menginginkan perdamaian sejati, termasuk masyarakat Gaza sendiri. Nuansanya bergeser dari multilateralisme menuju lingkup pengaruh yang sempit. Bahkan, ada kekhawatiran bahwa BoP akan membentuk otoritas sipil baru bentukan AS untuk menggantikan otoritas Hamas. Wajar saja penduduk Gaza resah, apalagi jika mekanisme ini didukung oleh pendukung bahkan mungkin oleh Benjamin Netanyahu sendiri.
Lalu, bagaimana cara kerja dewan ini? Pertanyaan itu menggantung di udara. Kepemimpinan BoP dikendalikan oleh para teknokrat dan politisi dengan rekam jejak yang... boleh dibilang kontroversial. Jared Kushner, misalnya. Sebagai pengembang real estat, ia dianggap sebagai otak di balik rencana pengembangan yang mereduksi tanah Palestina yang ia sebut "penghalang" menjadi sekadar investasi properti. Dia juga punya peran kunci dalam Perjanjian Abraham.
Artikel Terkait
Sertifikat Gratis untuk Korban Bencana Jadi Fokus Pertemuan Malam Sekretariat Kabinet
Izin Dicabut, Operasi Tetap Jalan: Kritik Pedas untuk 28 Perusahaan Pasca-Longsor
Hujan Deras Pagi Ini Lumpuhkan Rute Transjakarta
Rektor UGM Dikoreksi Sendiri: Dua Versi Kelulusan Jokowi dalam Video Resmi