Suara Eitan Mor terdengar tenang, namun sarat beban, saat ia bercerita di gelombang radio militer itu. Ia baru saja bebas setelah 738 hari ditahan di Gaza. Kisahnya bukan cuma soal tahanan dan penculik. Ada satu momen ganjil di tengah kekacauan perang, saat batas antara kedua peran itu tiba-tiba kabur.
Mor ditangkap pada serangan 7 Oktober 2023. Dalam wawancara dengan Yaron Vilensky itu, ia mengisahkan satu insiden yang sulit dilupakan. Saat itu, ia bersama beberapa pejuang Hamas di sebuah apartemen.
Lalu, situasi berubah jadi mimpi buruk.
“Sebuah F-16 meratakan gedung di sebelah kami,” ujar Mor.
“Seluruh gedung tempat kami berada mulai runtuh. Semua orang berteriak itu adalah momen teror total, seperti gempa bumi.”
Kepanikan pun merajalela. Dalam gelap dan debu reruntuhan, sesuatu yang tak terduga terjadi. Salah seorang penculiknya, seorang pejuang Hamas, justru menyerahkan senapan serbu kepada Mor, si tawanan.
“Anggota Hamas itu meletakkan senjatanya di tubuh saya, di dalam tali, di dalam tas,” jelas Mor dengan nada yang masih terasa mengherankan.
“Dia menyerahkan senapan itu kepada saya dan hanya berkata, ‘Ikuti saya.'”
Artikel Terkait
Saudi Tolak Jadi Pangkalan Serangan AS ke Iran, MBS dan Pezeshkian Perkuat Diplomasi
Kesibukan Bukan Alasan: Persahabatan yang Mati Pelan-Pelan di Era Modern
Kemiskinan di Tanah Kaya: Siapa yang Menikmati Emas dan Nikel Indonesia?
Bibit Siklon di Selatan Banten: Ombak 6 Meter dan Hujan Lebat Mengancam