Kalau kampus gagal mengajarkan cara berpikir dan membaca realitas, ya wajar saja jika lulusannya kewalahan di dunia kerja yang dinamis.
Namun begitu, nggak fair juga kalau mahasiswa yang jadi kambing hitam tunggal. Tanggung jawab besar ada di pundak negara dan penyelenggara pendidikan. Mereka harus memastikan kurikulumnya relevan, menyediakan akses magang yang berkualitas, dan membangun jembatan yang kokoh antara akademi dan industri. Tanpa itu, kuliah memang berisiko jadi institusi elitis yang mahal dan, jujur saja, kurang greget.
Tapi menyimpulkan kuliah sebagai "scam" itu terlalu gegabah dan berbahaya. Pendidikan tinggi punya nilai intrinsik yang nggak bisa diukur semata-mata dari gaji pertama. Ruang kuliah adalah tempat kita belajar berpikir sistematis, memperluas wawasan, dan membangun kesadaran sebagai warga negara. Seperti ditegaskan Amartya Sen, pendidikan itu intinya adalah memperluas 'capabilities' manusia kemampuan untuk memilih hidup yang diinginkan. Nilai semacam ini nggak langsung kelihatan di slip gaji, tapi ia fundamental bagi tegaknya demokrasi dan peradaban.
Jadi, pada intinya, ini bukan krisis pendidikan. Ini lebih tepat disebut krisis ekspektasi. Kuliah bukanlah jaminan sukses, tapi jelas juga bukan penipuan. Ia lebih mirip ruang kemungkinan. Ruang itu akan bermakna jika tiga pihak bersinergi: negara jujur soal kondisi pasar kerja, kampus berani berinovasi, dan mahasiswa sadar bahwa pendidikan adalah proses panjang membentuk diri, bukan mesin pencetak ijazah instan. Selama ekspektasi kita dibangun di atas ilusi, ya kekecewaan akan selalu menjadi 'lulusan' paling loyal dari sistem kita.
Artikel Terkait
Generasi Muda AS Serukan: Kalian Bukan Umat Pilihan, Kalian Iblis
Dua Ruas Jalan di Jakarta Tergenang, Arus Lalu Lintas Terganggu
Kisah Mengerikan di Lombok: Anak Cekik Ibu, Bakar Jasadnya Demi Uang
Trump Ultimatum Iran: Ancaman Serangan Lebih Dahsyat Gantung di Tengah Ajakan Berunding