Belakangan ini, istilah "kuliah itu scam" ramai banget beredar di media sosial. Gimana nggak? Biaya pendidikan melambung tinggi, sementara lapangan kerja buat lulusan baru terasa makin sempit dan kompetitif. Gelar sarjana seolah-olah tak lagi punya daya magis untuk membuka pintu karir. Di tengah situasi ini, pendidikan tinggi seperti kehilangan cahayanya. Tapi, apa iya kuliah benar-benar sebuah penipuan sistematis? Atau jangan-jangan, ekspektasi kitalah yang perlu dikoreksi ulang.
Menurut saya, masalah utamanya bukan terletak pada institusi kuliahnya sendiri. Yang bikin runyam adalah jurang lebar antara janji dan kenyataan. Sudah puluhan tahun, kita dicekoki narasi bahwa kuliah adalah tiket pasti untuk naik kelas sosial. Saat ekonomi berubah, industri tak menyerap banyak tenaga, dan jumlah sarjana membludak, narasi itu pun ambruk. Kekecewaan yang muncul akhirnya dilampiaskan ke kampus, padahal akar persoalannya mungkin lebih kompleks dan berada di ranah sistemik.
Di sisi lain, kita juga harus jujur mengakui kelemahan internal dunia pendidikan kita. Terlalu sering, gelar dianggap sebagai tujuan akhir. Substansinya pembentukan nalar kritis, etika, dan kemampuan adaptasi justru kerap terabaikan.
Paulo Freire pernah mengkritik model pendidikan ala 'bank', di mana mahasiswa cuma jadi wadah kosong yang dijejali informasi.
Artikel Terkait
Generasi Muda AS Serukan: Kalian Bukan Umat Pilihan, Kalian Iblis
Dua Ruas Jalan di Jakarta Tergenang, Arus Lalu Lintas Terganggu
Kisah Mengerikan di Lombok: Anak Cekik Ibu, Bakar Jasadnya Demi Uang
Trump Ultimatum Iran: Ancaman Serangan Lebih Dahsyat Gantung di Tengah Ajakan Berunding