Belakangan ini, istilah "kuliah itu scam" ramai banget beredar di media sosial. Gimana nggak? Biaya pendidikan melambung tinggi, sementara lapangan kerja buat lulusan baru terasa makin sempit dan kompetitif. Gelar sarjana seolah-olah tak lagi punya daya magis untuk membuka pintu karir. Di tengah situasi ini, pendidikan tinggi seperti kehilangan cahayanya. Tapi, apa iya kuliah benar-benar sebuah penipuan sistematis? Atau jangan-jangan, ekspektasi kitalah yang perlu dikoreksi ulang.
Menurut saya, masalah utamanya bukan terletak pada institusi kuliahnya sendiri. Yang bikin runyam adalah jurang lebar antara janji dan kenyataan. Sudah puluhan tahun, kita dicekoki narasi bahwa kuliah adalah tiket pasti untuk naik kelas sosial. Saat ekonomi berubah, industri tak menyerap banyak tenaga, dan jumlah sarjana membludak, narasi itu pun ambruk. Kekecewaan yang muncul akhirnya dilampiaskan ke kampus, padahal akar persoalannya mungkin lebih kompleks dan berada di ranah sistemik.
Di sisi lain, kita juga harus jujur mengakui kelemahan internal dunia pendidikan kita. Terlalu sering, gelar dianggap sebagai tujuan akhir. Substansinya pembentukan nalar kritis, etika, dan kemampuan adaptasi justru kerap terabaikan.
Paulo Freire pernah mengkritik model pendidikan ala 'bank', di mana mahasiswa cuma jadi wadah kosong yang dijejali informasi.
Kalau kampus gagal mengajarkan cara berpikir dan membaca realitas, ya wajar saja jika lulusannya kewalahan di dunia kerja yang dinamis.
Namun begitu, nggak fair juga kalau mahasiswa yang jadi kambing hitam tunggal. Tanggung jawab besar ada di pundak negara dan penyelenggara pendidikan. Mereka harus memastikan kurikulumnya relevan, menyediakan akses magang yang berkualitas, dan membangun jembatan yang kokoh antara akademi dan industri. Tanpa itu, kuliah memang berisiko jadi institusi elitis yang mahal dan, jujur saja, kurang greget.
Tapi menyimpulkan kuliah sebagai "scam" itu terlalu gegabah dan berbahaya. Pendidikan tinggi punya nilai intrinsik yang nggak bisa diukur semata-mata dari gaji pertama. Ruang kuliah adalah tempat kita belajar berpikir sistematis, memperluas wawasan, dan membangun kesadaran sebagai warga negara. Seperti ditegaskan Amartya Sen, pendidikan itu intinya adalah memperluas 'capabilities' manusia kemampuan untuk memilih hidup yang diinginkan. Nilai semacam ini nggak langsung kelihatan di slip gaji, tapi ia fundamental bagi tegaknya demokrasi dan peradaban.
Jadi, pada intinya, ini bukan krisis pendidikan. Ini lebih tepat disebut krisis ekspektasi. Kuliah bukanlah jaminan sukses, tapi jelas juga bukan penipuan. Ia lebih mirip ruang kemungkinan. Ruang itu akan bermakna jika tiga pihak bersinergi: negara jujur soal kondisi pasar kerja, kampus berani berinovasi, dan mahasiswa sadar bahwa pendidikan adalah proses panjang membentuk diri, bukan mesin pencetak ijazah instan. Selama ekspektasi kita dibangun di atas ilusi, ya kekecewaan akan selalu menjadi 'lulusan' paling loyal dari sistem kita.
Artikel Terkait
774 Pelanggaran Disiplin Terjadi di Kemenimipas, Bolos Kerja Mendominasi hingga 42 Pegawai Dipecat
Mentan Amran: Capaian Pangan Nasional Tak Lepas dari Peran TNI, Stok Beras Capai Rekor 5,12 Juta Ton
KPK Soroti 27.969 Bidang Tanah di Sulsel Belum Bersertifikat, Rawan Konflik dan Korupsi
Warkop Dg Anas: Meja Kopi Sederhana yang Menjadi Titik Temu Para Legenda Makassar