Suasana Pondok Pesantren Al-Falahiyah di Mlangi, Sleman, terasa berbeda Selasa (27/1) lalu. Dari siang hingga malam, puluhan kiai muda dan putra kiai atau yang akrab disebut gawagis se-Yogyakarta memadati tempat itu. Mereka berkumpul bukan untuk acara biasa, melainkan untuk sebuah forum bahtsul masail yang membahas satu hal krusial: kedudukan fatwa Syuriah dalam struktur keagamaan Nahdlatul Ulama.
Pesertanya beragam. Mulai dari pengasuh pondok, kiai-kiai muda, hingga para gawagis dari penjuru DIY. Diskusi berlangsung alot dan mendalam, menguliti berbagai kitab rujukan klasik. Hasil dari perdebatan ilmiah itu akhirnya dirumuskan dalam sebuah dokumen bernama Risalah Mlangi.
Daftar yang hadir pun cukup lengkap. Nama-nama seperti Gus Fahmi Basya, Gus Faqih Ali, KH Muhaimin, dan KH Ariful Haq Al-Mubarak hadir. Tak ketinggalan KH Aguk Irawan MN, KH Benny Sunan Kalijaga, serta KH Hamdanudin Mlangi yang menjadi tuan rumah. Juga tampak Gus Muhammad Habib, KH Salim Al-Azhari, hingga Gus Imam Nawawi. Mereka semua serius menyimak.
Di sisi lain, forum ini juga diwarnai kehadiran kiai sepuh yang disegani, KH Asyhari Abta. Beliau adalah pengasuh Pondok Tegalsari dan pernah dua periode menjabat Rois Syuriah PWNU DIY. Dalam kesempatan itu, dengan tenang namun tegas, ia mengingatkan pentingnya memahami struktur keagamaan NU sesuai AD/ART yang berlaku. Poin ini menjadi landasan awal pembicaraan.
Artikel Terkait
KPK Buka Suara: Gaji Tak Merata hingga Persepsi Korupsi sebagai Hak Istimewa
KPK Naikkan Batas Hadiah yang Tak Perlu Dilaporkan, Kini Rp 1,5 Juta
Siklus Bencana di Indonesia: Antara Respons Darurat dan Mitigasi yang Terlupakan
Lima Pemburu Diamankan, Rekaman Kamera Trap Ungkap Dugaan Cedera Macan Tutul