Di sisi lain, pembangunan ekonomi jadi senjata diplomasi yang nyata. Lihat saja Pelabuhan Berbera dan Zona Ekonomi di sekitarnya. Proyek raksasa itu bukan cuma soal infrastruktur; ia adalah pernyataan politik. Pelabuhan itu kini jadi jalur hidup bagi Ethiopia yang terkurung daratan, sekaligus mengangkat nilai tawar Somaliland di peta geopolitik Teluk Aden yang sibuk. Mereka juga aktif menjaga keamanan laut di sana, ikut serta memerangi pembajakan sebuah kontribusi yang diam-diam dihargai banyak pihak.
Namun begitu, aset terbesar mereka mungkin justru tersebar di seluruh dunia: diaspora-nya. Komunitas ini bekerja tanpa lelah sebagai duta soft power. Melalui lobi di Washington, Brussels, dan tempat-tempat lain, mereka membangun jaringan, mengampanyekan narasi bahwa Somaliland adalah oasis stabilitas dan demokrasi di kawasan yang bergejolak. Upaya mereka perlahan membentuk persepsi global.
Dampak Regional dan Tantangan Pengakuan Internasional
Kemajuan Somaliland ini jelas memicu kemarahan Mogadishu. Pemerintah Federal Somalia melihat setiap langkah diplomatik Hargeisa sebagai pengikisan kedaulatan mereka. MoU dengan Ethiopia itu memicu krisis terbuka, memperlihatkan betapa rapuhnya ikatan nasional Somalia dan betapa kuatnya keinginan Somaliland untuk diakui.
Ketegangan ini berimbas pada stabilitas kawasan. Perhatian Somalia yang seharusnya fokus melawan Al-Shabaab kini terpecah. Yang lebih rumit lagi, rivalitas regional ikut terbawa. Somaliland, dengan sekutu seperti Ethiopia dan Uni Emirat Arab, seolah berhadapan dengan blok Somalia yang didukung Turki dan Qatar. Dinamika ini mengubah persoalan pengakuan dari sekadar masalah hukum internasional menjadi permainan geopolitik tingkat tinggi di Tanduk Afrika.
Jadi, jalan menuju pengakuan penuh masih panjang dan berliku. Tantangannya bukan lagi sekadar membangun negara yang berfungsi itu sudah mereka buktikan melainkan meruntuhkan tembok politik dan kepentingan global yang tak mudah bergeser. Masa depan Somaliland masih digantungkan pada diplomasi yang lincah dan kesabaran yang luar biasa.
Artikel Terkait
KPK Buka Suara: Gaji Tak Merata hingga Persepsi Korupsi sebagai Hak Istimewa
KPK Naikkan Batas Hadiah yang Tak Perlu Dilaporkan, Kini Rp 1,5 Juta
Siklus Bencana di Indonesia: Antara Respons Darurat dan Mitigasi yang Terlupakan
Lima Pemburu Diamankan, Rekaman Kamera Trap Ungkap Dugaan Cedera Macan Tutul