Tiga Pekan Banjir Pati, Kerupuk dan Jajanan Tak Lagi Menghidupi

- Rabu, 28 Januari 2026 | 14:12 WIB
Tiga Pekan Banjir Pati, Kerupuk dan Jajanan Tak Lagi Menghidupi

Genangan air masih menyelimuti Kabupaten Pati. Sudah hampir tiga pekan, banjir ini tak hanya merendam rumah, tapi juga mematikan denyut perekonomian warga. Bagi banyak orang, bertahan hidup kini sepenuhnya bergantung pada bantuan yang datang.

Memiliki tabungan tentu masih memberi sedikit napas. Tapi ceritanya jadi lain untuk Masudah, seorang perempuan 52 tahun dari Desa Doropayung, Juwana. Dompetnya kosong melompong. Usaha kerupuk yang selama ini menghidupi keluarganya, ambruk diterjang banjir.

“Kalau punya tabungan, ada yang diandalkan. Lha ini gak punya sama sekali. Modal habis karena kerupuknya nggak jadi,”

ungkapnya di Posko Pengungsian Desa Doropayung, Rabu lalu. Suaranya lirih, penuh kepasrahan.

Bertahun-tahun, kerupuklah tulang punggung keluarga Masudah. Bahkan sesaat sebelum banjir besar merendam segalanya tiga pekan silam, ia masih sempat memproduksi. Kini, semua terhenti. Ia hanya bisa pasrah menunggu bantuan sembako. Tinggal bersama anak yang sudah berkeluarga di luar daerah pun bukan pilihan. Ia merasa harus menjaga rumahnya.

“Kemarin sempat ikut anak di Kaliori, Rembang. Tapi kemudian memutuskan pulang untuk menengok rumah. Sampai sekarang tinggal di pengungsian,” bebernya.

Menurut Masudah, puncak banjir lalu airnya mencapai ketinggian yang mengerikan: sekitar satu setengah meter, atau setinggi leher orang dewasa. Saat ini mungkin sudah mulai surut, tapi masih berkisar 80 sentimeter. Dan situasinya tak menentu.

“Kemarin sempat surut, tapi semalam naik lagi karena hujan deras. Pas banjir paling tinggi itu ya sampai seleher,” sebutnya.

Di sisi lain, ada juga yang nasibnya sedikit berbeda, meski sama-sama terpuruk. Seperti Fatonah, 63 tahun. Hidupnya biasa ia sandarkan pada berjualan jajanan di sekitar usaha ikan. Tapi banjir tiga pekan ini memaksa lapaknya tutup total. Anaknya yang bekerja di tambak ikut terdampak, tak bisa berkutik.

“Sejak banjir melanda sudah tak bisa berjualan. Otomatis tak punya penghasilan,”

katanya dari dalam rumahnya yang juga terendam.

Beruntung, Fatonah masih punya simpanan uang dari hasil jerih payahnya dulu. Tabungan itulah yang kini jadi penyambung hidup. Namun begitu, ia mengakui cadangannya itu kian menipis, seiring dengan air banjir yang enggan benar-benar surut.

“Tidak ada pemasukan jadi mengandalkan tabungan. Tapi ini tabungan sudah sangat menipis,”

keluhnya.

Berbeda dengan kebanyakan tetangganya yang mengungsi, Fatonah memilih bertahan. Lantai rumahnya sengaja ditinggikan sekitar satu meter, jadi masih bisa ia tempati meski air menggenang. Setelah sempat mengungsi ke rumah anak, ia kembali.

“Awalnya mengungsi ke rumah anak, tapi sudah beberapa hari ini tidur di rumah,” pungkasnya.

Bencana ini memang meluas. Data dari Pemerintah Desa Doropayung mencatat, lebih dari 400 rumah terendam, mengganggu kehidupan 1.475 warga. Sebagian besar terpaksa meninggalkan rumah mereka. Sekitar 56 jiwa mengungsi di posko desa, sementara ratusan lainnya kira-kira 600 jiwa berserakan mencari perlindungan: ke rumah saudara, sanggar tari, bahkan bekas Stasiun Juwana. Sisanya, seperti Fatonah, memilih bertahan, berjibaku dengan genangan di rumah masing-masing.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar