Kekecewaan tentu tak hanya dirasakan sang pedagang. Kalangan jurnalis dan masyarakat luas juga ikut menyoroti. Di sisi lain, banyak yang mempertanyakan profesionalisme oknum tersebut, yang dianggap gagal membedakan antara wartawan dan pelaku kejahatan di lapangan. Ini bukan soal teknis semata, tapi soal cara pandang.
Memang, permintaan maaf akhirnya disampaikan oleh aparat terkait. Mereka mengakui kesalahan. Tapi bagi banyak orang, itu belum cukup. Rasanya ada yang masih mengganjal. Harga diri seorang warga kecil yang sudah terlanjur diinjak-injak di depan umum, bisakah hanya ditebus dengan sepenggal kata maaf?
Komentar lain ini ramai disukai, menggambarkan betapa luka itu dalam.
Peristiwa di Kemayoran ini, meski tampak lokal, sebenarnya memantik lagi percakapan lama yang penting. Diskursus soal pendidikan etika, reformasi sikap, dan esensi dari kekuasaan yang berseragam. Masyarakat jelas tak butuh aparat yang sok kuasa. Mereka butuh pelindung, penegak keadilan yang bisa diandalkan.
Pada akhirnya, kejadian ini adalah pengingat yang keras. Seragam dan kewenangan itu amanah, bukan alat untuk menghakimi. Tanpa empati dan profesionalisme, yang terkikis bukan cuma nama baik oknum, tapi kepercayaan publik pada institusi itu sendiri. Dan memulihkannya, selalu lebih sulit daripada merusaknya.
Artikel Terkait
Reshuffle Kabinet 2026: Wacana Mendadak atau Keniscayaan yang Ditunggu?
Kapolres Sleman Ungkap Dilema Hukum di Balik Kasus Hogi Minaya
Tinggal Tanda Tangan Presiden, Gaji Hakim Ad Hoc Segera Naik
Istana Tunggu Surat Resmi DPR untuk Pengangkatan Hakim MK