Diskusi Publik JAMKI: Kritik Pedas untuk Pemberantasan Korupsi yang Mandek
JAKARTA Ruangan itu penuh dengan suara-suara yang tak sabar. Diskusi publik yang digelar Jaringan Aktivis dan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (JAMKI) pekan lalu, dengan tajuk yang provokatif "Akuntabilitas Pemberantasan Korupsi: Mungkinkah Membersihkan dengan Sapu Kotor?", berubah menjadi ruang kritik yang keras. Suasana tegang, lugas, dan penuh kekecewaan. Narasumber yang hadir seolah saling menguatkan satu sama lain, melontarkan pandangan yang menusuk langsung ke jantung persoalan.
Persoalan utamanya, menurut Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santosa, bukan cuma soal aturan yang lemah. Lebih dari itu. Ia melihat hilangnya integritas di tubuh aparat penegak hukum sebagai penyakit akut. Bagaimana mungkin sistem bisa diperbaiki jika penjaganya sendiri bermasalah?
"Ini paradoks serius," ujar Sugeng, Selasa lalu.
Ia menjelaskan, saat aparat yang punya mandat justru terlibat atau melindungi korupsi, otomatis legitimasi hukum di mata publik runtuh. Reformasi hukum, tegasnya, tak akan berarti apa-apa tanpa pembersihan internal yang tuntas. Transparansi dan pengawasan eksternal harus jadi prioritas. Publik sekarang ini makin kritis, dan mereka muak melihat hukum yang tampak tajam ke bawah namun tumpul ke atas.
"Kalau keadilan cuma milik orang kecil, sementara elite kebal, ya hukum kita sedang menuju kebangkrutan moral," tegas Sugeng.
Di sisi lain, praktisi hukum Firman Tendri Masengi menyampaikan kritik yang mungkin paling keras. Ia menggambarkan penegakan hukum nasional yang sudah kehilangan nyali dan independensi. Hukum, katanya, cuma bergerak kalau ada tekanan atau kegaduhan di media sosial.
"Hukum kita hari ini kacau. Banyak kasus mandek di tengah jalan," kata Firman.
Menurutnya, kondisi itu membuktikan hukum tak lagi berjalan atas dasar keadilan, tapi lebih pada popularitas. Lalu, dengan nada getir, ia memberikan sebuah metafora yang tajam untuk menggambarkan situasi saat ini.
"Kalau koruptor dan oknum aparat sudah sedemikian kotornya, ibarat sampah, kita tak butuh sapu lagi," ujarnya.
Artikel Terkait
Brimob Kerahkan Senjata Air Berat Atasi Kobaran Api di Pabrik Ban Medan
Polisi Desak Tinjau Ulang Regulasi Gas Nitrous Oxide, Waspadai Pola Mirip Etomidate
Es Gabus Palsu Berujung Damai di Masjid Bogor
Kumparan Gelar Live Anniversary, Siap Bagikan Hadiah Rp 99 Juta