Es Gabus dan Pamer Arogansi Kacung Rakyat
Tanpa laporan resmi, apalagi uji lab, seorang penjual es gabus tiba-tiba dituduh menjual jajanan berbahaya. Yang datang bukan prosedur, melainkan seragam dan kamera. Keyakinan bahwa kecurigaan sudah sama dengan kebenaran. Lalu, di depan lensa, dagangannya diremas-remas. Si pedagang dipaksa memakan sendiri jualannya itu. Nalar? Itu urusan nanti. Yang penting publikasi.
Di balik rekaman, ceritanya lebih kelam. Menurut sejumlah saksi, terjadi pukulan, ancaman, dan penghinaan. Ia baru dipulangkan pagi harinya, tubuh penuh lebam. Sebagai "ganti rugi", dia dibekali tiga ratus ribu rupiah seolah-olah martabat manusia punya harga mati. Lucunya, beberapa hari kemudian, hasil uji laboratorium keluar. Es gabus itu ternyata aman dikonsumsi. Yang benar-benar berbahaya justru pola pikir aparat: prasangka menggantikan pemeriksaan, kekerasan dianggap metode.
Lalu datanglah permintaan maaf. Simbolnya: sebuah sepeda motor.
Artikel Terkait
Ribuan Tempat Ibadah dan Madrasah Lumpuh Akibat Banjir Sumatera
Laporan Gratifikasi KPK Melonjak, Nilainya Justru Anjlok
Kritikus Soroti Krisis Kepemimpinan: Negara Butuh Negarawan, Bukan Penjual Kedaulatan
MUI Soroti Langkah Indonesia Bergabung dengan Dewan Perdamaian Trump