Akibatnya bisa ditebak. Saat konflik rumah tangga datang dan itu pasti akan datang banyak pasangan yang malah kebingungan. Mereka tidak punya ‘tool’ untuk mengatasinya. Masalah sepele pun bisa meledak jadi pertengkaran besar, hanya karena komunikasi yang amburadul.
Ini bukan omong kosong. Lihat saja data perceraian, terutama di kota-kota besar. Akar masalahnya seringkali bukan karena cinta hilang. Tapi lebih karena pasangan belum benar-benar siap. Siap untuk berkompromi, untuk lebih sabar, dan untuk benar-benar bekerja sama.
Pada intinya, kesiapan menikah adalah soal kemampuan. Mampu memahami peran baru, mengendalikan emosi, bicara dari hati ke hati, dan tentu saja, bertanggung jawab penuh atas pilihan yang sudah diambil.
Perjalanan Panjang yang Baru Dimulai
Nah, ini poin penting. Kesiapan menikah itu bukan garis finish yang kita capai sebelum akad. Bukan. Ia justru sebuah proses belajar yang tak pernah berhenti, sepanjang pernikahan itu sendiri.
Di sisi lain, peran bimbingan perkawinan dari KUA sebenarnya cuma langkah pembuka. Titik awal untuk membangun kesadaran, agar pasangan tidak hanya mengandalkan keberanian semata.
Dengan bekal yang lebih matang, pernikahan punya peluang lebih besar untuk jadi tempat yang tenang. Bahkan lebih dari itu, ia bisa menjadi ruang yang subur bagi kedua belah pihak untuk tumbuh, bersama-sama.
Artikel Terkait
Granat Menghantam, Kendaraan Baja Selamatkan Wali Kota dari Maut
Melawan Ombak Danau Sentani Demi Kirimkan Makanan Bergizi ke Pulau-pulau Terpencil
Potongan Video Prabowo Soal Israel Beredar, Padahal Pernyataan Lengkapnya Tegaskan Dukungan untuk Palestina
Foto Perbandingan Rapat Kabinet: Pelajaran untuk Generasi Muda yang Nanti Memegang Tampuk