Dulu, aku yakin banget cinta itu soal bertahan. Selama masih ada rasa, ya diperjuangkan. Pergi? Itu bukan opsi.
Memang, hubungan kita nggak langsung dimulai dengan luka. Aku ingat masa-masa di mana aku merasa benar-benar dicintai. Diperjuangkan, dianggap penting. Hal-hal kecil yang dilakuin pasangan terasa luar biasa. Perhatian sederhana pun sudah cukup. Di fase itu, membuka hati terasa aman dan nyaman banget.
Tapi, ya namanya hidup, nggak semua yang manis di awal bakal bertahan selamanya. Perlahan-lahan, semuanya berubah. Bukan karena satu peristiwa besar yang mengguncang, lho. Tapi lebih ke luka-luka kecil yang terus berulang, menumpuk pelan-pelan.
Aku jadi sering nangis. Merasa tertekan. Bahkan mulai mempertanyakan diri sendiri: "Apa yang salah dengan aku?" Persoalannya bukan cuma soal dia, tapi lebih ke bagaimana aku perlahan kehilangan ketenangan. Kendali atas perasaan sendiri rasanya lepas.
Yang bikin paling capek ternyata bukan sakitnya. Tapi kebiasaan aku buat nunda-nunda batas. Aku terus bertahan, sambil berharap suatu hari nanti semuanya akan membaik. Aku meyakinkan diri sendiri, "Ini masih bisa diperjuangkan kok." Lelah dinormalisasi, luka dimaklumi. Aku pikir itu bentuk cinta.
Padahal, cinta seharusnya nggak bikin kamu kehilangan jati diri.
Ada satu momen kesadaran yang datang. Aku ngeh, bahwa bertahan terlalu lama itu sebenernya bentuk pengabaian terhadap diri sendiri. Aku nggak bisa terus-terusan menukar kesehatan mental cuma buat harapan kosong bahwa orang lain akan berubah. Faktanya, nggak semua hal bisa diselamatkan cuma modal kesabaran.
Memasuki babak hidup yang baru, perlahan aku berubah. Nggak lagi nangis berlebihan. Bukan karena rasa itu hilang begitu aja, tapi karena aku belajar ngelola perasaan dengan lebih jujur. Aku paham sekarang, kuat itu bukan berarti menahan semua rasa sakit sendirian. Tapi berani berhenti ketika semuanya udah terlalu menyiksa.
Intinya, aku belajar milih diriku sendiri.
Ngomong-ngomong, tulisan ini bukan buat nyalahin siapa-siapa. Bukan soal siapa yang paling terluka atau paling bersalah. Ini lebih ke soal keberanian. Keberanian buat ngakuin bahwa nggak semua cinta harus dipertahankan sampe habis.
Kadang, bentuk cinta yang paling dewasa ya justru pergi.
Bukan karena nggak sayang.
Tapi karena akhirnya kita memilih untuk tetap utuh, sebagai diri sendiri.
Artikel Terkait
Warkop Dg Anas: Meja Kopi Sederhana yang Menjadi Titik Temu Para Legenda Makassar
Mahfud MD Sebut Video Ceramah Jusuf Kalla di UGM Dimutilasi untuk Adu Domba Umat Beragama
Madura United Kalahkan Semen Padang 1-0 Berkat Gol Cepat Junior Brandão
Pemprov Sulsel Gerak Cepat Tangani Kasus Santri Diduga Dipaksa Pakai Vape Berbahaya di Pangkep