Di sisi lain, ketika kata "sahabat" masuk ke bahasa Indonesia, maknanya bergeser. Ia jadi sekadar berarti teman atau kawan dekat yang setara. Inilah pangkal salah pahamnya. Sebagian orang lalu mengira "sahabat Nabi" berarti teman biasa Nabi yang sederajat dengannya. Padahal, kalau dipikir-pikir, ini agak konyol. Coba baca sejarah sedikit saja. Jelas, yang disebut sahabat Nabi itu adalah mereka yang memeluk Islam dan mengikuti ajarannya, bukan sekadar kenal atau berteman biasa. Mungkin karena terlalu asyik berhalusinasi sendiri di medsos, sampai fakta sejelas ini pun jadi kabur.
Terlepas dari kelucuan orang yang main makrifat di dunia maya, ini menunjukkan satu hal: bahaya jika kita tak paham asal-usul istilah serapan. Maknanya bisa melenceng jauh, bahkan jadi liar. Ambil contoh lain: kata "bersyahadat". Ada yang mengartikan "syahadat" sebagai "bersaksi", lalu "bersaksi" dipahami harus menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Alhasil, muncul kesimpulan ngawur bahwa umat Islam sekarang belum benar-benar Islam karena belum "melihat" Allah dan Nabi langsung. Absurd, kan? Tapi percayalah, ada yang berpendapat seperti itu. Dulu dia sering komen di tulisan saya, menuduh saya dan muslim lain belum bersyahadat, sampai akhirnya saya blokir karena nyepam terus.
Kalau Anda tahu istilah-istilah lain yang sering dimaknai secara aneh dan lucu oleh orang-orang "halu", coba tulis di kolom komentar. Kalau menarik, siapa tahu saya bahas sekilas.
Semoga ada manfaatnya.
Artikel Terkait
Gudang Logistik PLN di Ende Ludes Dilahap Api, Diduga Akibat Korsleting
Felix Siauw Kecam Langkah Prabowo di Davos: Penjajahan Gaya Baru
Kebanggaan yang Membelenggu: Ketika Jalan Sendiri Justru Memperpanjang Penderitaan
Dua Jenderal Puncak China Diselidiki, Isu Kebocoran Data Nuklir Menggantung