Kenapa Murid Nabi Disebut Sahabat?
✍🏻 KH Abdul Wahab Ahmad
Beberapa hari lalu, saya berkomentar di sebuah halaman milik seseorang yang mengaku-ngaku dapat makrifat tanpa guru. Saya bilang saja, kalau tanpa guru, ya gurunya pasti setan. Eh, malah ramai. Pengikut halaman itu banyak yang balas. Ada yang memaki, ada pula yang dengan pedasnya menyuruh saya "belajar lagi". Lucu, kan? Saya yang menekankan pentingnya berguru malah disuruh belajar oleh orang yang sepertinya enggan belajar pada ahlinya.
Tapi dari sekian banyak komentar, ada satu yang benar-benar bikin saya geleng-geleng. Alasannya belum pernah terpikirkan oleh saya, mungkin karena terlalu ngawur. Orang itu bilang, Nabi Muhammad itu tidak punya murid. Yang ada cuma sahabat. Jadi, menurutnya, Nabi bukan seorang guru, melainkan sekadar teman bagi para sahabatnya. Hehehe… ternyata ada juga, ya, pola pikir seperti itu. Saya kira istilah "sahabat" ini sudah jelas, bahkan bagi yang tak paham bahasa Arab sekalipun. Rupanya, masih bisa memicu salah kaprah.
Nah, mari kita lihat asal katanya. Dalam bahasa Arab, "Sahabat" itu berasal dari kata "shahaba" atau "shuhbah". Artinya, orang yang selalu membersamai dan mengikuti. Dalam tradisi Arab, siapa pun yang setia menemani dan mengikuti seseorang, ya disebut "sahabat"-nya. Murid-murid seorang guru pun disebut "ashab" (para sahabat) sang guru. Contohnya, "ashab asy-Syafi'i" itu maksudnya murid-murid Imam Syafi'i. "Ashab Abi Hanifah" ya pengikut Imam Abu Hanifah. Jadi, istilahnya sudah umum.
Artikel Terkait
Gudang Logistik PLN di Ende Ludes Dilahap Api, Diduga Akibat Korsleting
Felix Siauw Kecam Langkah Prabowo di Davos: Penjajahan Gaya Baru
Kebanggaan yang Membelenggu: Ketika Jalan Sendiri Justru Memperpanjang Penderitaan
Dua Jenderal Puncak China Diselidiki, Isu Kebocoran Data Nuklir Menggantung