Inisiatif Damai Trump: Hanya Eropa yang Menonton, Dunia Pilih Berdiam

- Selasa, 27 Januari 2026 | 16:00 WIB
Inisiatif Damai Trump: Hanya Eropa yang Menonton, Dunia Pilih Berdiam

Board of Peace Cuma Diliatin Eropa

Ada yang bilang, bergabung dengan Board of Peace bikinan Trump itu langkah diplomatis penting. Katanya, buat mengimbangi kepentingan Israel di kancah global. Tapi, ya sudahlah.

Nyatanya, di mata sekutu-sekutu utama Amerika sendiri di Eropa, organisasi ini dianggap nggak jelas. Masa depannya suram. Mereka cuma melongo, enggan bergabung.

Coba lihat daftar anggotanya. Nama-nama besar seperti Inggris, Jerman, Prancis, atau Kanada mana ada? Italia, Spanyol, Belanda, dan Australia juga absen. Padahal, mereka inilah yang kerap disebut sebagai "Dunia Barat". Di Asia, raksasa seperti China, Jepang, dan Korea Selatan pun tampaknya cuek. Undangan Trump seolah angin lalu.

Jadi, apa alasan negara-negara lain untuk ikut? Kecuali mungkin Turki dan Qatar, yang punya kepentingan politik tersendiri untuk menancapkan pengaruh di Gaza. Bagi yang lain, nilai strategisnya hampir nol.

Nah, biar organisasi ini punya "orbit", Trump menjadikan Gaza sebagai proyek perdananya. Cerdas juga sih. Gaza kan isu yang lagi panas, menyedot perhatian global, dan tentu saja uangnya berlimpah.

Kalau BoP sukses menangani Gaza, pamornya bakal melejit. Daya tawarnya naik. Bahkan, diam-diam mereka berharap bisa menggeser peran PBB. Logikanya sederhana: "BoP bisa, PBB nggak bisa."

Tapi menggarap Gaza bukan hal gampang. Amerika nggak mau terjun sendirian dan menanggung risiko besar. Makanya, mereka perlu melibatkan negara lain yang mungkin lebih bisa diterima di lapangan.

Di sisi lain, ada satu hal yang menarik. Iuran keanggotaan yang mencapai 1 miliar Dolar AS itu, bagi sebagian pengamat, ibarat jebakan. Tujuannya agar anggota yang sudah masuk tidak mudah kabur. Bayangkan, sudah bayar mahal-mahal, masa mau mundur begitu saja?

Apalagi kalau nanti BoP mandek, atau Trump sudah lengser tiga tahun ke depan. Kebijakan AS bisa berubah total. Tapi dengan skema ini, mereka terpaksa tetap jalan. Keuntungannya? Jika BoP bertahan, anak cucu dan keluarga Trump bisa tetap punya pengaruh besar di dunia, meski sang mantan presiden sudah pensiun.

Lalu, sebenarnya apa sih rencana Trump untuk Gaza?

Intinya mirip skenario Afghanistan dulu: ganti rezim. Mereka ingin membentuk pemerintahan baru di Gaza, plus pasukan keamanan baru yang menggantikan peran Hamas. Namun, dalam rencana ini, isu pembentukan negara Palestina tampaknya sengaja dikaburkan atau malah diabaikan.

Dengan pemerintahan baru yang lebih lunak terhadap Israel dan dikendalikan BoP, diharapkan Israel mau mundur total. Setelah itu, rekonstruksi Gaza bisa dimulai berdasarkan rencana yang konon dibikin menantu Trump sendiri.

Visi mereka muluk: menjadikan Gaza kota internasional. Berhasil atau tidak, itu urusan nanti. Yang jelas, proyeknya bernilai puluhan miliar dolar. Dan semua bantuan untuk Gaza harus lewat BoP, bukan lagi melalui saluran PBB.

Namun begitu, rencana ini punya ganjalan serius. Mekanisme pembentukan pemerintahannya bagaimana? Cara melucuti Hamas secara persuasif gimana? Dan yang paling sulit: mencegah mantan anggota Hamas menyusup ke dalam pemerintahan baru. Ini PR berat yang harus dijawab oleh semua anggota BoP.

Biar organisasinya makin tenar, Trump mungkin akan cari lahan garapan lain. Misalnya, mencoba menyelesaikan perang di Ukraina. Kalau berhasil, wah, pengaruh sang ketua seumur hidup ini bakal makin menggurita. Sekalipun nanti dia sudah pensiun dari kursi kepresidenan.

(Pega Aji Sitama)

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar