Di sisi lain, anggota dari PKS, Habib Aboe Bakar Al-Habsyi, turut angkat bicara. Dia bahkan menyebut nama Kapolda DIY, Irjen Anggoro, terkait kasus serupa di Sleman.
Soal kultur ini memang kompleks. Rikwanto, anggota dari Golkar yang juga mantan Kapolda Kalsel, mencoba memetakan. Dia bilang, kultur dan adab organisasi itu terlihat dari perilaku sehari-hari.
Dia mengingatkan, kultur erat kaitannya dengan kehidupan nyata anggota. Kesejahteraan, misalnya, bisa jadi faktor penentu. "Ada yang masih pegang kebenaran, itu. Tapi faktor kebutuhan bisa membuat dia tergoyahkan di situ. Jadi kesejahteraan anggota perlu dilihat betul," ucapnya.
Menanggapi semua kritik itu, Kapolri Sigit Prabowo menyampaikan apresiasinya. Dia berterima kasih atas dukungan Komisi III yang menginginkan Polri tetap di bawah Presiden.
Mengenai reformasi kultur, Sigit mengklaim sudah ada upaya konkret. "Polri tentunya telah melakukan berbagai macam upaya untuk mempersiapkan perubahan. Mulai dari perbaikan doktrin, sampai dengan bagaimana kita meningkatkan pengawasan," jelasnya.
Rapat pun ditutup dengan kesepakatan. Komisi III akan membahas lebih dalam soal perbaikan kultur Polri ini dalam revisi UU Polri nanti. Masih panjang jalan yang harus ditempuh, tapi setidaknya, pembicaraan serius sudah dimulai.
Artikel Terkait
KPK Selidiki Gus Alex, Diduga Jadi Pipa Aliran Dana Travel Haji ke Kemenag
Menteri Lingkungan Hidup Bongkar Lubang Korupsi di Balik Gunungan Sampah
Darurat Sampah Merata, Menteri KLHK Soroti Denpasar dan Tangsel
Saksi Bongkar Setoran Non-Teknis untuk Biaya Dinas Luar Negeri Atasan