Rapat Komisi III dan Kapolri: Kultur Polri Jadi Sorotan
Rapat antara Komisi III DPR dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berlangsung cukup panas. Beberapa anggota dewan tak sungkan menyoroti persoalan mendasar: kultur di tubuh Polri yang dinilai masih perlu banyak perbaikan. Mereka merasa, ada hal-hal yang seharusnya bisa diselesaikan dengan cara lain, tapi malah berujung pidana.
Machfud Arifin dari NasDem termasuk yang vokal. Menurutnya, perubahan kultur harus dimulai dari pendidikan, baik untuk bintara maupun taruna Akpol. Intinya, hukum itu untuk manusia, bukan sebaliknya.
Dia langsung memberi contoh yang masih hangat. "Yang terbaru, seorang ngejar istrinya dijambret jadi tersangka. Mungkin kalau suaminya [anggota] Resmob langsung dibedil," tambahnya, dengan nada sedikit sinis.
Machfud lalu bercerita tentang aduan yang diterima komisinya. Ada guru honorer, sarjana fisika pula, yang digaji Rp 400 ribu sebulan. Guru itu dilaporkan ke polisi karena menampar siswa yang melawan setelah rambutnya dicukur. "Terus harus wajib lapor jaraknya 80 km. Gimana hati nurani kita," ungkapnya.
Kasus-kasus lain juga dia ingatkan. Mulai dari pencuri kayu yang dihukum 1,5 tahun, sampai kisah Elina di Alabama yang mencuri telur karena lapar. "Polisi sana tahu, dia mencuri karena lapar lalu dikasih, dilepas, dikirim makanan. Partisipasi publik luar biasa," ujarnya, membandingkan.
Artikel Terkait
KPK Selidiki Gus Alex, Diduga Jadi Pipa Aliran Dana Travel Haji ke Kemenag
Menteri Lingkungan Hidup Bongkar Lubang Korupsi di Balik Gunungan Sampah
Darurat Sampah Merata, Menteri KLHK Soroti Denpasar dan Tangsel
Saksi Bongkar Setoran Non-Teknis untuk Biaya Dinas Luar Negeri Atasan