KDM Soroti Alih Fungsi Lahan sebagai Biang Keladi Longsor Bandung Barat

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 19:50 WIB
KDM Soroti Alih Fungsi Lahan sebagai Biang Keladi Longsor Bandung Barat

MURIANETWORK.COM Suasana di Desa Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (24/1) lalu, terasa berat. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tampak berdiri di antara tumpukan tanah dan bebatuan, menatap lokasi bencana yang telah menenggelamkan puluhan rumah warga. Korban hilang masih puluhan, sementara delapan jiwa lainnya telah ditemukan tak bernyawa.

Menurut Dedi yang akrab disapa KDM akar masalahnya sudah jelas. “Iya kan sudah jelas (alih fungsi lahan),” ujarnya dengan nada prihatin.

Ia menjelaskan, lereng-lereng kaki Gunung Burangrang yang dulu hijau oleh hutan, kini berubah menjadi hamparan kebun sayur. Pohon-pohon besar yang mestinya menahan tanah, sudah banyak yang raib. Kawasan itu, katanya, sudah sangat kritis.

“Kebun sayur di kemiringan sampai ke puncak dan pohon-pohonnya sudah ditebangin sebagian,” tambahnya.

Memang, alih fungsi lahan yang tak terkendali itulah yang diduga jadi pemicu utama. Hujan deras yang mengguyur akhirnya menjadi pukulan terakhir. Material tanah dari lereng curam itu pun meluncur, menimbun permukiman di bawahnya.

KDM menegaskan, kesalahan ini bersifat sistemik dan berlarut-larut. Daerah dengan topografi seperti itu seharusnya tidak dijadikan lahan pertanian sayur secara masif. Tanaman palawija dengan akar yang pendek tak mampu mengikat tanah sekuat tanaman keras atau hutan bambu.

“Kita sudah salah dari awal tata ruangnya, harus dibenahi berulang-ulang saya katakan,” tegasnya.

Ia pun menyayangkan lemahnya mitigasi bencana selama ini. Pembangunan seolah berjalan tanpa mempertimbangkan kerawanan yang ada. “Daerah seperti ini tidak layak jadi kebun sayur, layaknya jadi hutan bambu. Kita sudah lama membangun tanpa mitigasi bencana. Sejak awal tata ruangnya salah,” ucap KDM.

Sementara itu, di lokasi yang sama, upaya pencarian terus berlangsung dengan intens. Tim SAR gabungan yang melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, dan relawan masih berjibaku menyisir reruntuhan.

Mereka bekerja dengan penuh kehati-hatian. Pasalnya, kondisi tanah di lokasi masih labil dan mengancam dengan longsor susulan. Keselamatan petugas menjadi pertimbangan utama di tengah upaya menyelamatkan nyawa yang mungkin masih tertimbun.

Hingga Sabtu sore, korban tewas yang berhasil dievakuasi masih bertahan di angka delapan orang. Pencarian terhadap puluhan warga yang hilang tetap menjadi prioritas, meski harapan semakin kecil.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar