Hujan deras yang mengguyur sejak malam, akhirnya berujung pada bencana. Dini hari Sabtu (24/1) lalu, lereng Gunung Burangrang di Cisarua, Bandung Barat, tiba-tiba bergerak. Tanah longsor itu menyapu permukiman warga, meninggalkan kerusakan yang masif dan kepiluan yang mendalam.
Hingga sore harinya, upaya pencarian korban terpaksa dihentikan sementara. Alasannya sederhana namun mengerikan: kondisi tanah di lokasi masih sangat berbahaya. Tim di lapangan khawatir, longsor susulan bisa terjadi kapan saja.
Kapolda Jawa Barat, Irjen Rudy Setiawan, yang berada di lokasi, menjelaskan situasi yang dihadapi tim gabungan. Hasil asesmen terbaru menunjukkan tanah yang labil dan penuh lumpur air.
“Insyaallah besok pagi akan kita lakukan kembali, karena hasil asesmen kita sampai sore ini masih dikhawatirkan ada longsor susulan. Dan hasil asesmennya, tanahnya itu berlumpur air, kedalaman sekitar 5 meter. Cukup berbahaya,” kata Rudy.
Itulah kendala utamanya. “Itu jadi kendala kita, ya,” ujarnya singkat, menggambarkan betapa sulitnya operasi penyelamatan di tengah kondisi yang tak menentu.
Meski begitu, persiapan untuk esok hari sudah dilakukan. Rudy memastikan, anjing pelacak atau unit K-9 sudah disiagakan di tempat. Mereka akan diturunkan begitu pencarian dimulai kembali.
“Insyaallah sudah ada di sini, tapi kita turunkan besok. Karena hari ini sudah dinyatakan kita apa, berhenti dulu, dilanjutkan besok pagi,” ucapnya.
Di sisi lain, data dari BPBD Jawa Barat mulai memberikan gambaran tentang skala tragedi ini. Sedikitnya 30 rumah terdampak, dengan satu di antaranya rusak berat. Yang lebih memilukan, 10 nyawa melayang akibat terjangan material longsor.
Pencarian belum usai. Hingga saat ini, petugas masih berjuang menemukan 82 warga yang dinyatakan hilang. Sementara itu, upaya perlindungan bagi yang selamat terus berjalan. Sekitar 400 warga telah dievakuasi ke tempat pengungsian yang lebih aman, meninggalkan rumah mereka yang mungkin sudah tak lagi berbentuk.
Semua mata kini tertuju pada Minggu (25/1) pagi. Saat tim gabungan dan anjing pelacak akan turun kembali, berharap menemukan yang hilang, di tengah tanah yang masih mengancam.
Artikel Terkait
Pemprov Riau Bentuk Satgas Anti-Narkoba, Tangani Peredaran yang Sudah Masuk Darurat
KPK Serahkan Rekomendasi Perbaikan Tata Kelola Partai Politik ke Presiden dan DPR
Menkeu Yakin IHSG Tembus 10.000 Tahun Ini Meski Sempat Ambruk Jadi yang Terburuk se-Asia
Bayi 5 Bulan Tewas dalam Kecelakaan di Manado, Pengemudi Ditetapkan Tersangka