CGR: Arkeolog Kata-Kata yang Menggali Kubur Ingatan
oleh: Nuthayla Anwar
Menjadi penyair itu ibarat peziarah. Setiap perjalanan batinnya adalah upaya memetik dan meramu kata, entah untuk merayakan cinta atau justru memadamkannya, menentang angkara, atau sekadar merajut angan.
Tapi Chairil Gibran Ramadhan atau CGR memilih jalur ziarah yang lain. Ia bukan cuma meramu. Ia menggali. Lewat buku-buku puisinya, ia menyelamatkan yang terpendam dan memberi suara pada yang bisu: nama-nama yang sudah lama dimakamkan sejarah, tempat-tempat yang tak lagi disebut, peristiwa dan tradisi yang raib dari ingatan kolektif.
Buku terbarunya, Tjente Manis Hoedjan Gerimis, adalah buktinya. Di sana, CGR memanggil kembali sosok-sosok seperti Souw Beng Kong, Nie Hoe Kong, Lie Tjian Tjoen, sampai Kho Tjeng Lie alias Ateng. Ia menghidupkan bukan hanya nama, tapi juga kejadian, kebiasaan, bahkan dialek Hokkian yang nyaris punah. Lalu, ia pasang footnote. Bagi CGR, catatan kaki itu seperti nisan penanda bahwa semua itu pernah ada.
Pilihannya ini jelas berisiko. Siapa sih yang sekarang tertarik baca puisi sejarah, apalagi yang dipenuhi footnote? Bait-baitnya susah dijadikan caption Instagram. Lariknya tak cocok dikutip saat galau. Dan puisinya juga bukan jenis yang mengguncang panggung dengan teriakan protes.
Tapi CGR tampaknya tak ambil pusing. Ia menulis dengan keyakinan teguh: pasti ada pembaca di luar sana yang haus akan masa lalu. Maka, seperti seorang arkeolog sastra, ia teliti menggali lapisan demi lapisan sejarah. Setiap karyanya diusahakan hidup sesuai zamannya.
Ciri khasnya jelas. Puisi-puisinya singkat, pilihan katanya padat, ejaan disesuaikan dengan era yang ia ceritakan. Metafora rumit dan bunga-bunga bahasa nyaris tak ada. Yang justru mencolok adalah footnote-nya seringkali lebih panjang dari puisi itu sendiri berisi tanggal, nama lengkap, lokasi, dan kronologi.
Catatan kaki itu bukan pelengkap. Ia jadi bagian utuh dari tubuh puisi. Inilah trademark CGR.
Bagi sebagian orang, cara ini mungkin dianggap membunuh puisi. Bukankah puisi harusnya bebas, tentang perasaan, tidak dijerat fakta? Namun CGR membuktikan sebaliknya. Footnote-nya justru berfungsi sebagai jembatan. Jembatan antara imajinasi dan kenyataan, antara masa lalu dan masa kini. Ia menjadi saksi bahwa seseorang pernah hidup, bernafas, dan mencintai. Itu adalah amanat yang wajib disampaikan.
Artikel Terkait
Meninggal di Usia 26, Lula Lahfah Jadi Korban Silent Killer Henti Jantung
Tito Karnavian Buka Huntara di Agam, Desak Data Korban Segera Diselesaikan
Prabowo di Davos: Diplomasi Ekonomi dan Langkah Berani di Panggung Retak
Banjir Bandang Porak-Porandakan Kawasan Wisata Guci, Akses Utama Terputus