Chairil Gibran Ramadhan: Menentang Lupa dengan Puisi dan Catatan Kaki

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 18:50 WIB
Chairil Gibran Ramadhan: Menentang Lupa dengan Puisi dan Catatan Kaki

Efeknya unik. Seperti trailer film yang memantik rasa penasaran, puisi CGR membuat kita ingin segera membuka Google, mencari arsip, atau membongkar buku sejarah yang mungkin tak pernah terpikir untuk dibaca.

Lalu, sebenarnya untuk siapa puisi-puisi semacam ini ditulis?

Jawabannya: untuk pembaca yang sabar. Untuk mereka yang rela duduk tenang, membaca pelan, bolak-balik antara larik puisi dan keterangan kaki. Untuk mereka yang membuka diri, tidak hanya ingin merasakan, tapi juga ingin tahu. Bukan untuk yang sedang kasmaran butuh kata-kata puitis, bukan pula untuk yang marah butuh amunisi. CGR menulis untuk orang yang sedang mencari jangkar sesuatu yang mengikat mereka pada masa lampau, untuk memahami konteks hari ini.

Di sisi lain, yang juga menarik, CGR sebenarnya sedang membangun sebuah warisan metodologis. Ia merintis genre yang bisa diikuti dan dikembangkan penyair muda lain. Ia membuktikan puisi tidak melulu soal ekspresi personal; ia bisa jadi medium historiografi alternatif.

Bayangkan saja. Sepuluh tahun mendatang, andai ada puluhan penyair mengikuti jejaknya menulis tentang tokoh terlupakan, peristiwa yang dihapus dari buku pelajaran, suara yang dibungkam penguasa. Itu akan jadi revolusi kecil di dunia sastra kita. Dan CGR akan dikenang sebagai pionirnya, semata karena ia berani mengambil jalan berbeda.

Begitu kata Milan Kundera. Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.

Dan melalui puisi-puisinya yang dijahit rapi dengan catatan kaki, Chairil Gibran Ramadhan pun ikut bersabda, menentang lupa dengan caranya sendiri.


Jakarta, 16 Januari 2026

(Nuthayla Anwar, penyair dan wakil rektor UIA Al Ghuraaba, Jakarta)


Halaman:

Komentar