Oleh: Dina Y Sulaeman, dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran
Belum lama ini, Presiden Trump meresmikan sebuah badan baru bernama “Board of Peace” atau BoP. Banyak media langsung menjulukinya “Dewan Perdamaian Gaza”. Tapi sebutan itu, kalau kita baca piagam resminya, agak menyesatkan. Soalnya, nama Gaza sama sekali tidak muncul di sana.
Menariknya, struktur piagam BoP ini mirip banget dengan Piagam PBB. Makanya, wajar jika ada yang curiga ini bisa jadi organisasi tandingan yang bakal saingin peran PBB dalam urusan perdamaian global. Konon, salah satu alasan Presiden Prancis Macron menolak gabung ya karena hal ini.
Bedanya jelas. PBB anggotanya negara-negara yang gabung sukarela. Sementara untuk BoP, keanggotaannya berdasarkan undangan dan persetujuan dari ketua dewan itu sendiri, yaitu Donald Trump.
Dalam teks piagamnya, disebutkan bahwa dewan ini adalah organisasi internasional yang bertujuan “mempromosikan stabilitas, memulihkan pemerintahan yang dapat diandalkan dan sah, serta mengamankan perdamaian abadi di daerah-daerah yang terkena dampak atau terancam konflik.” Kata-katanya mulia, memang.
Nah, proyek perdananya adalah membangun kembali Gaza. Saat peresmian di Davos, Trump tampak optimis. Dengan gaya khasnya, dia bilang proyek ini akan “sangat berhasil” dan “menakjubkan untuk disaksikan.”
“Saya ini orang real estate sejati… lihat lokasi di laut ini. Lihat properti yang indah ini,” ujarnya.
Maksudnya, dari kacamata pengembang properti, Gaza dilihat sebagai aset tepi laut yang punya nilai jual tinggi.
Di forum yang sama, menantunya, Jared Kushner, memaparkan master plan. Gambarannya, sebuah kota modern dengan menara apartemen dan promenade hijau di pinggir pantai. Dia bahkan yakin pembangunan untuk jutaan orang di Timur Tengah itu bisa kelar hanya dalam tiga tahun. Dananya? Minimal 25 miliar dolar AS, katanya.
Yang bikin mengernyit, ada nama pengusaha real estate Israel, Yakir Gabay, yang disebut akan terlibat. Gabay adalah miliarder dengan imperium properti senilai 30 miliar Euro di Eropa.
Belum lagi, salah satu anggota Dewan Eksekutif BoP adalah Steve Witkoff – Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah yang juga teman dekat Trump dan sesama pengembang.
Sekilas, ini terdengar seperti angin segar. Bayangkan, Gaza yang hancur akan dibangun jadi kota mewah. Tapi justru di situlah letak tipuannya.
Kalau kita telusuri lebih dalam, yang dibangun ini bukan perdamaian, melainkan arsitektur kolonial baru yang dibungkus bahasa kemanusiaan.
Coba pikir. Dewan ini lahir di tengah genosida yang masih berlangsung. Dipimpin oleh AS, negara pemasok senjata utama sekaligus pelindung diplomatik Israel di PBB. Lebih absurd lagi, Israel justru diundang sebagai anggota. Seolah-olah lupa bahwa mereka dituding sebagai pelaku genosida yang telah menewaskan lebih dari 680 ribu warga Gaza.
Israel diperlakukan sebagai mitra, bukan penjahat. Ibaratnya, membentuk dewan bantuan untuk korban banjir, tapi yang duduk di dalamnya justru perusahaan pembabat hutan penyebab banjir itu.
Artikel Terkait
Tito Karnavian Tinjau Tapteng, Sedimen Banjir Disulap Jadi Tanggul
Gibran dan Prabowo: Ketegangan Terselubung di Balik Panggung Istana
Angkot Tua Bogor Akan Dimusnahkan, Sopir dan Warga Resah
Air Seleher di Pejaten: Kisah Ani dan Malam-malam yang Tak Pernah Surut