Di lapangan Yonif 111 Aceh Tamiang, Jumat (23/1) lalu, suasana tampak berbeda. Muhammad Tito Karnavian, selaku Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, berdiri menghadapi barisan taruna. Mereka berasal dari Akpol, Akmil, dan Unhan. Misi mereka jelas: diterjunkan langsung ke wilayah terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang untuk membantu pemulihan.
Dalam sambutannya, Tito tak bertele-tele. Ia langsung menyentuh inti persoalan yang akan dihadapi para taruna nanti. "Ini kerja fisik," tegasnya. Pasca-bencana, kondisi lapangan masih berantakan, dipenuhi lumpur yang mengeras terik matahari. Menurutnya, kekuatan fisik adalah senjata utama dalam 'peperangan' memulihkan daerah itu.
“Rumah-rumah masyarakat karena lumpurnya masuk, begitu panas seperti ini mengeras, maka senjata peperangan syaratnya nomor 1, kita bermain fisik,” ujarnya.
Namun begitu, ada pesan penting yang ia sampaikan. Keberadaan para taruna di sana adalah untuk meringankan, bukan malah membebani. Mereka harus bisa mandiri dan membantu masyarakat serta pemerintah setempat, bukan sebaliknya.
"Kita mengulurkan tangan, bukan menengadahkan tangan,” jelasnya.
Di sisi lain, Tito punya harapan lebih. Kehadiran mereka diharapkan bisa memacu kembali denyut ekonomi lokal yang sempat terhenti. Caranya sederhana: dengan memenuhi kebutuhan harian dengan berbelanja di warung-warung dan toko setempat. Gerakan kecil itu, jika dilakukan bersama, bisa memberi dampak yang nyata bagi perputaran uang di daerah.
Lebih dari sekadar bantuan, Tito melihat ini sebagai momen pembelajaran yang tak ternilai. Ini adalah ruang kelas sesungguhnya. Teori-teori yang didapat di kampus dan akademi akhirnya diuji di lapangan yang riil, penuh ketidakpastian dan tantangan.
“Adik-adik, ini adalah praktik dari pelajaran yang diterima di akademi yang sesungguhnya, riil di lapangan,” ujarnya.
Ia juga menyelipkan pesan moral. Menghadapi pekerjaan berat seperti ini, dibutuhkan keikhlasan dan keyakinan. Percayalah, selalu ada pelajaran berharga yang tersembunyi di balik kesulitan.
“Di balik sesuatu yang sulit, pasti ada hikmahnya. Ini kerjaan yang berat, tapi saya yakin akan memberikan hikmah dan menjadi sejarah pribadi personal dari tiap-tiap adik-adik,” tuturnya.
Sebagai penutup, Tito berharap citra positif tertinggal di benak masyarakat Aceh. Ia melepas dengan doa agar semua taruna dapat menjalankan tugas dengan lancar, tetap sehat, dan pulang dengan selamat, membawa pengalaman yang membentuk mereka.
Artikel Terkait
Gubernur Kaltim Rudy Masud Minta Maaf soal Renovasi Rumah Dinas Rp25 Miliar, Janji Biayai Sendiri Item Non-Kedinasan
Harga Emas Antam Kembali Turun, Kini Rp2,809 Juta Per Gram
Mahfud MD: Hukum Jamin Hak Pro dan Kontra soal Prabowo, Tapi Pemakzulan Punya Syarat Berat
Raptors Samai Kedudukan Usai Kalahkan Cavaliers 93-89 di Laga Keempat Playoff NBA