Presiden Prabowo Subianto melakukan ziarah ke makam aktivis buruh dan pahlawan nasional, Marsinah, di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu. Kegiatan tersebut digelar setelah Kepala Negara meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di daerah yang sama.
Ziarah berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh penghormatan. Momen itu menjadi simbol pengakuan negara terhadap perjuangan Marsinah, seorang buruh perempuan yang namanya abadi sebagai ikon keberanian dan pembela hak-hak pekerja di Indonesia. Makam Marsinah terletak sekitar satu kilometer dari kompleks museum yang baru saja diresmikan.
Sesampainya di lokasi pemakaman, Presiden Prabowo berjalan menuju pusara Marsinah dengan didampingi sejumlah menteri dari Kabinet Merah Putih. Di hadapan makam, ia menaburkan bunga dan berdoa sejenak untuk mendiang. Rangkaian kegiatan itu sekaligus menjadi penutup dari acara peresmian museum yang pada hari itu dipadati oleh masyarakat dan buruh dari berbagai daerah.
Dalam sambutannya saat peresmian, Presiden mengungkapkan bahwa usulan penetapan Marsinah sebagai pahlawan nasional berasal langsung dari kalangan buruh Indonesia. Seluruh organisasi buruh, menurutnya, sepakat mengajukan satu nama yang dinilai mewakili perjuangan kaum pekerja.
“Mereka satu suara, semua organisasi buruh sepakat Ibu Marsinah sebagai pahlawan nasional. Dan saya mendapat kehormatan untuk jadikan beliau sebagai pahlawan nasional,” kata Presiden.
Kehadiran museum dan rumah singgah ini diharapkan tidak sekadar menjadi ruang memorial. Lebih dari itu, keduanya diharapkan mampu menjadi pengingat bagi generasi muda tentang pentingnya perjuangan keadilan, hak asasi manusia, dan keberpihakan terhadap kaum pekerja.
Museum Marsinah dibangun di kawasan rumah masa kecil Marsinah. Selain menyimpan arsip dan barang-barang pribadi miliknya, museum ini juga dilengkapi dengan fasilitas rumah singgah yang dapat digunakan oleh para pekerja dari berbagai daerah.
Marsinah secara resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai aktivis buruh yang vokal. Ia pernah menjadi negosiator bagi ratusan buruh yang melakukan pemogokan akibat perusahaan tidak menerapkan upah minimum dan tidak memberikan otonomi bagi serikat buruh. Marsinah dilaporkan menghilang pada 5 Mei 1993, dan jasadnya ditemukan empat hari kemudian.
Artikel Terkait
BMKG Peringatkan Kemarau Panjang di Sebagian Besar Wilayah Indonesia, Puncak Kekeringan Diprediksi Agustus 2026
Tersangka Ijazah Palsu Jokowi Desak Polisi Beri Kepastian Hukum, Roy Suryo Diminta Ditahan
KPPI Hentikan Penyelidikan Perpanjangan Bea Masuk Pengamanan Komponen Kulkas, Industri Dinilai Sudah Pulih
Kesaksian Korban Pembobolan Rp1,2 Miliar: Terapis Curi Kartu ATM dari Casing Ponsel