Menurut sejumlah saksi, penelusuran pernah dilakukan. Saya sendiri pernah mengecek melalui proyek besar Kompilasi Hadits karya almarhum Dr. Ahmad Fathullah Guru Mughni. Upaya monumental yang mengindeks ribuan kitab. Nah, lafaz doa itu memang ada. Tapi bukan di Kutubus Sittah. Ia hanya muncul di dua kitab kecil yang jarang didengar, itupun konteksnya untuk Qunut Witr, bukan Subuh.
Kesimpulannya cukup mengejutkan. Dalam lebih dari 32.000 hadits yang termuat dalam Kutubus Sittah sumber paling otoritatif setelah Al-Qur'an lafaz persis itu tidak ditemukan. Ini fakta tekstual, bukan soal pendapat madzhab. Memang, sang penyusun proyek itu telah wafat sebelum pekerjaannya seratus persen selesai. Jadi, ruang untuk konfirmasi ulang tetap terbuka. Bisa saja ada kesalahan teknis di awal. Tapi ya, data yang ada sekarang menunjukkan hal tersebut.
Di sisi lain, fakta tetaplah fakta. Bagi yang biasa mendasarkan amalan pada rujukan yang ketat, temuan ini tentu akan dibaca dengan kepala dingin. Sebaliknya, bagi yang punya cara lain, sikapnya pasti berbeda.
Maka, mari kita diskusi dengan elegan. Utamakan referensi, bukan retorika kosong. Agar percakapan kita tetap berada di jalur ilmu, jauh dari kebisingan yang tak perlu.
Dan, biarlah umpatan kembali pada yang melontarkannya.
Artikel Terkait
Chocolate: Kisah Penyembuhan di Balik Hidangan yang Menggugah Jiwa
Hujan Deras di Jakarta Pusat, Tiga Warga Terluka Akibat Pohon Tumbang
Bareskrim Bongkar Modus Proyek Fiktif Dana Syariah Indonesia Rugikan Lender Rp 2,4 Triliun
Garuda Indonesia Gelar Travel Fair, Siapkan 40 Ribu Kursi Promo untuk Umrah dan Haji