Genangan air cokelat hampir setengah meter menguasai ruas Jalan Daan Mogot Raya. Lalu lintas pun macet total. Banyak pengendara motor terpaksa berhenti, ragu menerobos karena air sudah menyentuh knalpot mereka. Hanya satu dua orang yang nekat, sementara kemacetan kian parah seiring bertambahnya kendaraan.
Di tengah situasi buntu itu, muncul solusi tak terduga. Sebuah gerobak kayu didorong oleh beberapa anak muda dengan celana digulung hingga selutut. Mereka menawarkan jasa: mengangkut motor melewati banjir. Beberapa pengendara pun tertarik.
Dengan cekatan, mereka menaikkan sebuah motor ke atas gerobak. Pengemudinya ikut naik, lalu mereka mendorong perlahan melintasi genangan yang luas. Sederhana, tapi efektif.
Salah satu dari mereka adalah Fahri Setiawan, 18 tahun. “Nama saya Fahri Setiawan, TB aja,” ujarnya.
Pelajar asal Taman Kota ini mengisi hari libur sekolahnya dengan kerja serabutan ini. Bagi Fahri, mengangkut motor di tengah banjir bukan hal baru. Ia sudah melakukannya sejak banjir besar 2020 lalu.
“Sudah, dari banjir yang 2020 itu,” kenangnya. “Iya, iseng saja. Terus dikasih duit.”
Gerobak yang dipakai pun bukan milik mereka. “Minjam, ada,” katanya singkat. Mereka bekerja beramai-ramai, tanpa pembagian tugas yang kaku. Semua saling bantu. “Sama teman-teman yang lain,” tambah Fahri.
Tarif Fleksibel, Penghasilan Menggiurkan
Hari itu, peminat jasa mereka ternyata banyak. Sebagian besar adalah pekerja yang hendak pulang atau pergi, ada juga kurir paket yang terjebak. “Ada yang pulang kerja, ada yang mau ngantar paket,” jelas Fahri.
Artikel Terkait
Iran Hormati Langkah Indonesia, Tapi Tegaskan Perdamaian Gaza Harus Dimulai dari Akhiri Pendudukan
Jas Hujan Laris Manis di Pasar Asemka, Pedagang Raup Untung dari Hujan Tak Henti
PKS Tegaskan Identitas di Tengah Godaan Politik 2029
Demokrasi dan Dilema Partai Baru: Antara Kuantitas dan Kualitas Gagasan