Pendidikan Nasional 2025: Capaian dan Ketangguhan di Tengah Bencana

- Jumat, 23 Januari 2026 | 10:48 WIB
Pendidikan Nasional 2025: Capaian dan Ketangguhan di Tengah Bencana

Tahun 2025 bukanlah tahun yang mudah bagi dunia pendidikan nasional. Di tengah berbagai tantangan, termasuk bencana alam yang melanda beberapa wilayah, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melaporkan sejumlah capaian yang cukup signifikan. Intinya, upaya menjaga agar roda pembelajaran tetap berjalan tak pernah berhenti.

Kalau bicara soal perluasan akses, program seperti Indonesia Pintar (PIP) berhasil menyentuh lebih dari 19 juta siswa dari keluarga yang kurang mampu. Tak hanya itu, ada juga Beasiswa ADEM yang menjangkau anak-anak di daerah khusus, bahkan hingga ke anak pekerja migran Indonesia di luar negeri. Di sisi lain, dari segi infrastruktur, program revitalisasi dan pembangunan berhasil menjangkau lebih dari 16 ribu satuan pendidikan. Angka ini ternyata melampaui target yang ditetapkan sebelumnya. Dampaknya pun terasa luas, menyerap tenaga kerja lokal dan menggerakkan UMKM di ribuan kecamatan.

Guru pun tak luput dari perhatian. Peningkatan kesejahteraan dan kompetensi digenjot melalui berbagai tunjangan dan program pelatihan. Ratusan ribu guru mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG), sementara puluhan ribu lainnya mendapat pelatihan untuk meningkatkan kapasitas mengajar. Bahkan, sekitar 12.500 guru mendapat dukungan untuk mengejar kualifikasi S1 atau D4.

Di ranah yang lebih luas, upaya pelestarian bahasa daerah dan penguatan komunitas literasi terus digalakkan. Ini semua bagian dari strategi besar untuk mengokohkan jati diri bangsa. Dan siapa sangka, Bahasa Indonesia sendiri mencatat momen bersejarah di kancah global. Dalam Sidang Umum UNESCO ke-43 di Samarkand, Uzbekistan, Menteri Abdul Mu’ti menyampaikan Pernyataan Nasional Indonesia sepenuhnya dalam bahasa kita. Sebuah langkah simbolis yang kuat, menempatkan Bahasa Indonesia sejajar dengan sembilan bahasa resmi dunia lainnya di forum internasional tersebut.

Ujian Berat di Penghujung Tahun

Namun begitu, ujian nyata datang di akhir 2025. Banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengganggu layanan pendidikan di ribuan sekolah. Respons pun harus cepat dan tepat. Kemendikdasmen tak hanya fokus pada tanggap darurat, tapi juga memikirkan pemulihan jangka panjang.

Upaya yang dilakukan cukup komprehensif. Mulai dari mendirikan tenda dan ruang kelas darurat, menyalurkan puluhan ribu paket perlengkapan sekolah, hingga memberikan bantuan operasional pendidikan yang nilainya mencapai lebih dari Rp 25 miliar. Yang tak kalah penting, bantuan psikososial dan buku bacaan disiapkan untuk membantu pemulihan emosional anak-anak. Guru dan tenaga kependidikan yang terdampak juga mendapat tunjangan khusus, sebagai bentuk perhatian atas dedikasi mereka di kondisi terberat.

“Semoga seluruh bantuan tersebut dapat mendukung kebutuhan anak-anak kita untuk dapat tetap mendapatkan hak pendidikannya meskipun dalam kondisi yang sangat terbatas,”

ujar Menteri Abdul Mu’ti dalam keterangan resminya.


Halaman:

Komentar