"Indonesia memilih perdamaian daripada kekacauan. Kami ingin menjadi teman bagi semua dan musuh bagi tidak satu pun," katanya.
"1.000 teman terlalu sedikit bagi kami, 1 musuh terlalu banyak," imbuh Prabowo, menyampaikan pesan yang terdengar puitis.
Ia menegaskan komitmen Indonesia untuk menjadi warga dunia yang baik dan bertanggung jawab, termasuk dalam isu pelestarian alam. Kepada seluruh kepala negara yang hadir, ia mengajak bersama-sama menjaga perdamaian dunia.
Fokus pada Manusia: Pendidikan Jadi Kunci
Bagian penting lain dari pidatonya adalah soal pengembangan sumber daya manusia. Bagi Prabowo, ini adalah kunci kemajuan bangsa yang tak bisa ditawar.
"Saya memiliki keyakinan bahwa modal manusia menentukan pertumbuhan jangka panjang, keuntungan jangka panjang. Pengembangan manusia, sumber daya manusia adalah kunci menuju bangsa yang berkembang dan sukses," ucapnya.
Tanpa pendidikan yang memadai, sebuah negara berisiko gagal. "Kurangnya pendidikan adalah jalan menuju negara gagal. Tidak ada negara yang bisa berharap untuk stabil dan makmur jika rakyatnya buta huruf, jika rakyatnya tidak mampu mengikuti sains dan teknologi modern," jelas dia.
Untuk mewujudkannya, pemerintah gencar mendigitalisasi sekolah. Salah satunya dengan memasang panel pintar interaktif di kelas. Tahun 2026 ditargetkan penambahan satu juta unit lagi, sehingga tiap sekolah minimal punya tiga sampai empat kelas berpanel digital. Harapannya, dalam tiga tahun ke depan, setiap sekolah punya setidaknya enam ruang kelas dengan fasilitas itu.
Tak cuma itu. Ada rencana merenovasi 60 ribu sekolah dan membangun 500 sekolah unggulan. Prabowo juga memamerkan program Sekolah Rakyat yang sudah berjalan, dengan 166 unit berdiri. Sekolah ini ditujukan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu agar bisa sekolah gratis. Target akhirnya adalah 500 Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia.
Dan yang terbaru, ada wacana membangun 10 universitas baru. Saat ini pemerintah masih menjajaki kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Eropa dan Amerika Utara untuk mewujudkannya.
Artikel Terkait
Dua Bulan Pasca Banjir Bandang, Lumpur Hitam Masih Membayangi Aceh Tamiang
Makoto Shinkai Menangis Saat Tonton Adaptasi Live Action 5 Centimeters Per Second
Dari Warisan Sejarah ke Istana: Kisah Latifa al-Droubi, Ibu Negara Suriah
Gizi Anak Terjamin, Nasib Guru Honor Terkatung