Prabowo di Davos: Tanpa Pendidikan yang Memadai, Negara Bisa Gagal

- Jumat, 23 Januari 2026 | 02:18 WIB
Prabowo di Davos: Tanpa Pendidikan yang Memadai, Negara Bisa Gagal

Di tengah hiruk-pikuk World Economic Forum di Davos, Swiss, Presiden Prabowo Subianto menyuarakan satu hal yang menurutnya fundamental: masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas manusianya. Pernyataannya itu ia sampaikan pada Kamis (22/1) lalu, menegaskan bahwa fokus pemerintahannya adalah membangun SDM.

"Saya punya keyakinan kuat, modal manusialah yang menentukan pertumbuhan dan keuntungan jangka panjang," ujar Prabowo.

"Pengembangan sumber daya manusia itu kunci mutlak menuju bangsa yang berkembang dan sukses."

Baginya, tanpa pendidikan yang memadai, sebuah negara sulit berharap banyak. Pendidikan, dalam pandangannya, adalah penentu kecerdasan kolektif rakyat. Bahkan, ia menyebutnya dengan tegas.

"Kurangnya pendidikan adalah jalan lurus menuju negara gagal. Mustahil sebuah negara bisa stabil dan makmur kalau rakyatnya buta huruf, atau tak mampu mengikuti perkembangan sains dan teknologi modern," jelasnya.

Lalu, bagaimana langkah konkretnya? Prabowo memaparkan sejumlah program yang sedang digeber. Infrastruktur pendidikan didorong lewat digitalisasi besar-besaran. Salah satu andalannya adalah memasang panel layar interaktif di ruang-ruang kelas.

"Contohnya tahun lalu, kami merenovasi lebih dari 16 ribu sekolah. Tidak hanya itu, kami juga melengkapi 288.000 sekolah dengan satu panel layar datar interaktif berukuran 75 inci," paparnya.

"Tahun depan, 2026, targetnya tambah 1 juta panel lagi. Harapannya, tiap sekolah punya setidaknya 3 sampai 4 kelas yang dilengkapi teknologi ini. Dalam tiga tahun, kami berkomitmen agar semua sekolah di Indonesia memiliki minimal 6 ruang kelas dengan panel interaktif digital."

Selain digitalisasi, pembangunan fisik juga digencarkan. Rencananya, 60 ribu sekolah akan direnovasi dan 500 sekolah unggulan baru akan didirikan. Prabowo juga tak lupa menyebut capaian program Sekolah Rakyat yang sudah mencapai 166 unit.

Program ini memang punya misi sosial yang kuat: memberi akses pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Target jangka panjangnya, Indonesia akan memiliki 500 Sekolah Rakyat.

"Saya bertekad, anak dari orang yang paling miskin sekalipun tidak boleh terjebak dalam kemiskinan. Mereka berhak mendapat kesempatan yang sama. Karena itulah saya sudah bangun 166 dan akan terus lanjutkan sampai total 500 sekolah berasrama ini," ungkap Prabowo.

Tak berhenti di pendidikan dasar dan menengah, visinya merambah ke perguruan tinggi. Terbaru, ia menyatakan rencana pembangunan 10 universitas baru. Saat ini, pemerintah masih menjajaki kerja sama dengan sejumlah kampus ternama di Eropa dan Amerika Utara.

"Tujuannya untuk menjalin kolaborasi, menciptakan universitas dan kampus berstandar internasional," katanya menutup penjelasan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler