Purbaya Geram: Perusahaan Baja China Diduga Hina Indonesia dengan Pengemplangan Pajak

- Kamis, 22 Januari 2026 | 23:25 WIB
Purbaya Geram: Perusahaan Baja China Diduga Hina Indonesia dengan Pengemplangan Pajak

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampak geram. Kekesalannya meledak saat membongkar praktik perusahaan baja asal China yang diduga mengemplang pajak di Indonesia selama puluhan tahun. Bagi Purbaya, ini bukan sekadar pelanggaran, tapi sebuah bentuk penghinaan.

“Karena sudah terbukti sudah puluhan tahun dan kita dihina dan disepelekan seperti itu. Gimana perusahaan asing bisa beroperasi seperti itu? Dan menganggap bangsa kita bangsa tempe. Tahu bagus juga enak. Bangsa oncom juga enak. Bangsa apa? Bangsa yang bisa dikendalikan dengan uang gitu saja, enak saja tuh,”

Demikian Purbaya menegaskan kepada awak media di Jakarta, Rabu lalu. Suaranya tegas, penuh emosi yang tertahan.

Dari sekitar 40 perusahaan China yang dicurigai, fokus pemerintah kini tertuju pada dua raksasa. Purbaya masih menutup rapat nama keduanya. Tapi yang jelas, operasi mereka sudah berlangsung lama. Diam-diam, mereka menggerogoti pasar dalam negeri.

“Mereka menguasai ini loh, di sini loh diam-diam loh,” ujarnya. “Perusahaan-perusahaan China yang ilegal diam-diam bermain di sini dan menguasai pasar domestik. Sehingga perusahaan domestik, baja yang bayar pajak sesuai aturan, terancam. Bahkan banyak yang tutup. Masa itu mau kita biarkan? Jadi ini ancaman serius ya.”

Nah, yang bikin panas kuping Purbaya adalah pengakuan dari salah satu perusahaan itu sendiri. Katanya, bayar pajak lewat jalur belakang lebih murah ketimbang ikuti aturan resmi. “Indonesia enggak akan berubah,” begitu kira-kira anggapan mereka.

“Itu kan pernyataan yang kurang ajar,” sambung Purbaya. “Biar aja mereka dengar nanti kita beresin.”

Di sisi lain, langkah penertiban tak hanya bakal menyasar perusahaan asing. Aparat internal pun jadi sasaran. Purbaya berjanji tak segan memecat oknum pajak yang ketahuan kongkalikong. Ancaman serius ini, menurutnya, harus disikapi dengan tindakan yang juga serius. Tak ada lagi toleransi.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar