Masa lalu seolah berhenti di Pasar Nostalgia, Surabaya. Di sini, barang-barang antik tak sekadar menunggu lapuk, tapi menanti tangan yang tepat untuk membawanya pulang. Semakin langka, harganya pun melambung.
Letaknya di Jalan Bratang Binangun. Berbeda dengan riuhnya kota, pasar ini justru sunyi. Suasananya tenang, jauh dari kebisingan.
Begitu masuk, kesan pertama justru sepi. Beberapa kios di kanan-kiri tampak tertutup. Sebuah papan di pintu memberi petunjuk sederhana: "barang antik ada di belakang." Anda harus menyusuri lorong tengah hingga ke ujung belakang, baru kemudian beberapa lapak terbuka terlihat.
Di lapak-lapak sederhana itu, beragam benda lawas tersusun. Ada mesin tik berusia puluhan tahun, koper kulit usang, jam dinding klasik, hingga aneka hiasan rumah dari era yang sudah lama berlalu. Semuanya tertata rapi, menyimpan cerita.
Bagi sebagian orang, barang-barang ini bukan cuma kenangan. Mereka adalah sumber rezeki. Seperti Iswanto, pria 50 tahun yang menyewa lapak di sini. Awalnya ia cuma kolektor yang bernostalgia, kini dagangannya menghidupi.
Menurut Iswanto, ketertarikannya berawal dari jam, radio, sampai kerajinan kayu. Tapi lama-lama, permintaan beragam dan koleksinya makin banyak. Sekarang ia menguasai dua lapak.
Harganya bervariasi, mulai dari sepuluh ribu rupiah sampai puluhan juta. "Kalau yang mahal ya sampai Rp 15 juta, gramofon, tapi belum jual, tinggal satu soalnya," ungkapnya.
Peminat barang antik ternyata makin bertambah. Salah satu pemicunya, kata Iswanto, adalah tren dekorasi kafe dan rumah yang mengusung tema vintage. Omzetnya bisa mencapai Rp 3 juta per bulan.
Artikel Terkait
Jalan DI Pandjaitan Lumpuh, Pengendara Terjebak Banjir dan Macet Mencekam
Wali Kota Yogyakarta Siapkan Wamira untuk Kendalikan Harga Sembako di Kampung
Panglima TNI Serius Tinjau Kesiapan Prajurit dan Dukung Ketahanan Pangan di Garut
Izin 28 Perusahaan Dicabut, Tapi Operasi di Lapangan Masih Berjalan