Di Pasar Nostalgia Surabaya, Barang Loak Berubah Jadi Harta Karun

- Kamis, 22 Januari 2026 | 17:54 WIB
Di Pasar Nostalgia Surabaya, Barang Loak Berubah Jadi Harta Karun

Masa lalu seolah berhenti di Pasar Nostalgia, Surabaya. Di sini, barang-barang antik tak sekadar menunggu lapuk, tapi menanti tangan yang tepat untuk membawanya pulang. Semakin langka, harganya pun melambung.

Letaknya di Jalan Bratang Binangun. Berbeda dengan riuhnya kota, pasar ini justru sunyi. Suasananya tenang, jauh dari kebisingan.

Begitu masuk, kesan pertama justru sepi. Beberapa kios di kanan-kiri tampak tertutup. Sebuah papan di pintu memberi petunjuk sederhana: "barang antik ada di belakang." Anda harus menyusuri lorong tengah hingga ke ujung belakang, baru kemudian beberapa lapak terbuka terlihat.

Di lapak-lapak sederhana itu, beragam benda lawas tersusun. Ada mesin tik berusia puluhan tahun, koper kulit usang, jam dinding klasik, hingga aneka hiasan rumah dari era yang sudah lama berlalu. Semuanya tertata rapi, menyimpan cerita.

Bagi sebagian orang, barang-barang ini bukan cuma kenangan. Mereka adalah sumber rezeki. Seperti Iswanto, pria 50 tahun yang menyewa lapak di sini. Awalnya ia cuma kolektor yang bernostalgia, kini dagangannya menghidupi.

"Saya dulu kan penggemar sepeda ontel. Terus ada barang-barang gini kan menimbulkan nostalgia gitu. Terus saya beli double, jual. Awalnya begitu," kenang Iswanto, Kamis lalu.
"Di loakan-loakan itu kan nyari spare part ontel sama kalau ada, ada barang-barang yang jadul-jadul saya beli terus kumpulin. Kalau dulu masih belum ada online itu nyarinya pasar, pasar loak," lanjutnya.

Menurut Iswanto, ketertarikannya berawal dari jam, radio, sampai kerajinan kayu. Tapi lama-lama, permintaan beragam dan koleksinya makin banyak. Sekarang ia menguasai dua lapak.

"(Sekarang) semuanya. Mainan ada, terus industrial, barang-barang yang buat lampu-lampu itu," ujarnya.

Harganya bervariasi, mulai dari sepuluh ribu rupiah sampai puluhan juta. "Kalau yang mahal ya sampai Rp 15 juta, gramofon, tapi belum jual, tinggal satu soalnya," ungkapnya.

Peminat barang antik ternyata makin bertambah. Salah satu pemicunya, kata Iswanto, adalah tren dekorasi kafe dan rumah yang mengusung tema vintage. Omzetnya bisa mencapai Rp 3 juta per bulan.

"Kalau menurun sih ya begini-begini aja dari dulu. Tapi sekarang ada peningkatan sih sebenarnya. Orang berkunjung itu kan ada peningkatan hari Jumat, Sabtu itu biasanya ramai. Enggak mesti. Pokok rata-rata itu ya hampir Rp 2 juta sampai Rp 3 juta," katanya.

Uniknya, pasar ini juga jadi tempat orang menawarkan barang-barang aneh. Iswanto bercerita, pernah ada yang menjual boneka karena sang pemilik sebelumnya merasa barang itu 'angker'.

"Sering, ke sini datang bawa barang. Ada tapi ya enggak peduli yang penting keunikannya. Ini (boneka) yang punya enggak berani, jadi dijual," ujar dia.

Ia pernah mendapatkan lukisan milik Basofi Sudirman, mantan Gubernur Jawa Timur. Sayang, lukisan itu sudah laku terjual. "Oh, sudah laku ini, lukisan miliknya Pak Gubernur Basofi. Yang jual teman," ucap Iswanto.

Dia lalu menunjukkan beberapa koleksi andalan. Ada solder minyak tanah buatan Jerman tahun 1940-an. "Ini Kumpo. Ini tahun 40-an. Jerman, masih ada mereknya. Ini dapat di Solo," paparnya.

Barang tertuanya adalah sebuah music box atau orgel dari tahun 1930-an. "Ini di Loak ini dari Surabaya. Ini tahun 30-an. Kalau dijual Rp 10-an (juta)," katanya.

Di lapak lain, ada Muhammad Riskom. Pria 49 tahun ini mengawali hobi sebagai kolektor sejak 2001. Tiga tahun kemudian, barang-barang koleksinya ia jadikan bisnis.

"Sebetulnya ya beli suka dulu. Enggak terarah beli suka dulu. Kan tahun segitu media sosial belum ada. Jadi tinggal kita telepon pakai telepon umum, telepon ke yang suka-suka aja, dilempar aja. Jualan kalau enggak salah 2004, 2005-an. Tapi mulai ngumpul-ngumpulin barang, beli-beli barang itu 2001. Semuanya, main semuanya. Gak ada spesialis," tutur Riskom.

Koleksi tertua Riskom adalah porselen dan lukisan, dengan harga mulai Rp 500 ribu hingga jutaan rupiah. "Paling mahal sebetulnya kalau porselen ya Cina tetap. Lukisan, bisa (sampai jutaan), ya tergantung pelukisnya juga," jelasnya.

Menariknya, pengunjung pasar ini tak cuma lokal. Riskom menyebut ada pembeli dari mancanegara yang sengaja berburu barang unik.

"Dari luar negeri ada. Macam-macam ada Australia, Jerman, China. Ada Yaman kemarin itu di sini. Dia memang kan pencari harta karun, kan lintas negara kan banyak," katanya.
"Kadang-kadang dapat, kadang-kadang enggak dapat, kadang-kadang macam-macam. Kadang-kadang spesialisnya kan macam-macam juga ada yang porselen Cina, ada yang Eropa tua gitu. Ada yang kartu-kartu basket yang dari Jepang dicari kartu basket itu. Ya kadang-kadang nemu, kadang-kadang enggak. Australia cari audio, cari piringan hitam, vinyl itu," tambahnya.

Begitulah Pasar Nostalgia. Tempat di mana setiap barang bekas punya nilai, setiap lapak menyimpan sejarah, dan setiap transaksi bisa jadi awal cerita baru.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini