Uniknya, pasar ini juga jadi tempat orang menawarkan barang-barang aneh. Iswanto bercerita, pernah ada yang menjual boneka karena sang pemilik sebelumnya merasa barang itu 'angker'.
Ia pernah mendapatkan lukisan milik Basofi Sudirman, mantan Gubernur Jawa Timur. Sayang, lukisan itu sudah laku terjual. "Oh, sudah laku ini, lukisan miliknya Pak Gubernur Basofi. Yang jual teman," ucap Iswanto.
Dia lalu menunjukkan beberapa koleksi andalan. Ada solder minyak tanah buatan Jerman tahun 1940-an. "Ini Kumpo. Ini tahun 40-an. Jerman, masih ada mereknya. Ini dapat di Solo," paparnya.
Barang tertuanya adalah sebuah music box atau orgel dari tahun 1930-an. "Ini di Loak ini dari Surabaya. Ini tahun 30-an. Kalau dijual Rp 10-an (juta)," katanya.
Di lapak lain, ada Muhammad Riskom. Pria 49 tahun ini mengawali hobi sebagai kolektor sejak 2001. Tiga tahun kemudian, barang-barang koleksinya ia jadikan bisnis.
Koleksi tertua Riskom adalah porselen dan lukisan, dengan harga mulai Rp 500 ribu hingga jutaan rupiah. "Paling mahal sebetulnya kalau porselen ya Cina tetap. Lukisan, bisa (sampai jutaan), ya tergantung pelukisnya juga," jelasnya.
Menariknya, pengunjung pasar ini tak cuma lokal. Riskom menyebut ada pembeli dari mancanegara yang sengaja berburu barang unik.
Begitulah Pasar Nostalgia. Tempat di mana setiap barang bekas punya nilai, setiap lapak menyimpan sejarah, dan setiap transaksi bisa jadi awal cerita baru.
Artikel Terkait
Celah di Laut Maluku: DPR Soroti Penyelundupan WNA Tiongkok Lewat Jalur Terpencil
Gus Ipul Ingatkan Pendamping PKH: Tidak Ada Murid Titipan di Sekolah Rakyat
Dubes Iran di Jakarta: Aksi Protes Dibajak, Mossad dan CIA Dituding Dalangi Kekerasan
Gugatan Rp3,89 Triliun dan Izin yang Dicabut: Akhir Kisah Toba Pulp Lestari?